7 Presiden Yang Terbunuh Akibat Skandal Politik

AnakRegular | Inilah Tujuh Presiden dunia yang meninggal akibat skandal politik di negaranya. 

Politik menurut Aristoteles adalah Usaha yang ditempuh oleh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Sedangkan menurut Hans Kelsen pengertian politik itu ada dua yaitu  politik sebagai etik, yakni berkenaan dengan tujuan manusia atau individu agar tetap hidup secara sempurna dan politik sebagai teknik, yakni berkenaan dengan cara (teknik) manusia atau individu untuk mencapai tujuan.

Namun dalam perkembangannya politik telah menjelma sebagai lambang sebuah kekuasaan. Di sebuah negara politik selalu digunakan untuk mendapatkan kekuasaan oleh banyak orang. Oleh karena itu tak heran jika banyak orang yang terjun ke dunia politik karena ingin mendapatkan kekuasaan di sebuah negara.

Dalam sejarah dunia, tercatat bahwa politik menjadi salah satu unsur penting dalam sebuah negara. Banyak cara yang dilakukan agar orang bisa masuk dalam dunia politik, mulai dari cara biasa hingga cara yang tak biasa. Seperti pembunuhan politik yang sejak dulu menjadi salah satu cara penyingkiran pemimpin politik dari kekuasaannya.

Ada banyak sekali pemimpin politik di dunia, termasuk Presiden, yang menjadi korban pembunuhan politik. Ada dua motif utama pembunuhan politik. Pertama, pembunuhan politik yang didorong oleh persaingan politik untuk merebut kekuasaan. Kedua, pembunuhan politik yang didorong oleh kepentingan negeri-negeri imperialis, khususnya AS, untuk menyingkirkan pemimpin progressif di berbagai belahan dunia.


Mahatma Gandhi

7 Presiden Yang Terbunuh Akibat Skandal Politik

Mohandas Karamchand Gandhi, atau sering dipanggil Mahatma Gandhi, adalah bapak pembebasan India. Selama beberapa dekade, Gandhi memimpin gerakan kemerdekaan India untuk lepas dari kolonialisme Inggris.

Gandhi adalah lulus sekolah hukum di Inggris. Ia kemudian mengawali karirnya sebagai pengacara di Afrika Selatan, yang saat itu masih di bawah kolonialisme Inggris. Namun, di sana, Gandhi justru menerima perlakuan diskriminatif. Ia pernah diturunkan dari kereta api karena bersikeras duduk di kursi klas utama yang diperuntukkan untuk kalangan kulit putih.

Kembali ke India, ia memimpin gerakan kemerdekaan. Ia menggunakan metode non-kekerasan dan pembangkangan sipil/boikot. Gerakan ini disebut “Satyagraha” atau “Jalan Menuju Kebenaran”. Pada tahun 1920-an, ia memimpin gerakan boikot barang-barang Inggris dan menyerukan sikap non-koperasi (menolak kerjasama). Tahun 1930-an, ia memprotes pajak garam oleh Inggris melalui long-march sejauh 250 mil.

Pada tahun 1940-an, tuntutan kemerdekaan menguat. Saat itu, penguasa Inggris menangkap sejumlah tokoh pergerakan India, termasuk Gandhi. Ia dipenjara selama 2 tahun. Pasca perang dunia ke-II, Inggris mulai melunak dan menjanjikan kemerdekaan ke India. Namun, seperti biasa, Inggris menjalankan politik pecah belah: memaksa India menjadi dua negara dengan agama berbeda, yakni India (Hindu) dan Pakistan (Islam). Gandhi menolak proposal itu.

Taktik pecah-belah Inggris itu berhasil membawa India dalam pertumpahan darah antara Hindu dan Islam. Gandhi sendiri berusaha menyatukan Hindu dan Islam untuk bersatu membentuk bangsa India. Gagasan itu ditolak oleh Hindu garis keras.

30 Januari 1948, ketika sedang berdoa di halaman Birla House, New Delhi, Gandhi dibunuh oleh seorang pemuda Hindu garis keras. Pemuda itu bernama Nathuram Godse. Ia menembak Gandhi dengan pistol sebanyak tiga kali. Bapak nasional India itu tersungkur dan meninggal hanya setengah jam kemudian.

John F. Kennedy

7 Presiden Yang Terbunuh Akibat Skandal Politik

John Fitzgerald “Jack” Kennedy, sering disingkat JFK, adalah Presiden ke-35 Amerika Serikat. Ia menjadi Presiden AS dari tahun 1961 hingga tahun 1963. Sebelum menjadi Presiden, ia adalah politisi dari Partai Demokrat.

Tak ada hal menonjol yang dilakukan Kennedy saat menjadi Presiden. Ia menjanjikan dana yang lebih besar untuk pendidikan, jaminan kesehatan bagi lansia, dan bantuan ekonomi untuk wilayah pedalaman.

Dalam politik luar negeri, kebijakan Kennedy tetap dalam konteks memerangi komunisme. Pada masanyalah invasi Teluk Babi, yakni serangan tiba-tiba AS terhadap Kuba, dilakukan.

Pada 22 November 1963, saat sedang melakukan lawatan ke negara bagian Texas, JF Kennedy ditembak oleh seseorang. Ia tertembak di atas mobil kepresidenan. Saat itu, pihak berwenang menetapkan Lee Harvey Oswald sebagai pelaku pembunuhan Kennedy. Namun, hingga kini, kontroversi mengenai pembunuhan Kennedy ini belum selesai.

Abraham Lincoln

7 Presiden Yang Terbunuh Akibat Skandal Politik

Abraham Lincoln adalah Presiden ke-16 Amerika Serikat. Ia berkuasa dari tahun 1861 hingga 1865. Pada tahun 1862, Ia menyampaikan Proklamasi Emansipasi, yang bertekad menghapuskan perbudakan di Amerika Serikat.

Namun, keinginan Lincoln tidak mulus. Ia harus berhadapan dengan kekuatan konservatif, terutama pemilik budak. Amerika pun terbelah dua: negara-negara bagian Utara (yang anti-perbudakan) dan Selatan (yang pro-perbudakan). Itu pula yang membuat Amerika terjerembab dalam perang sipil selama 4 tahun.

Di akhir masa jabatannya, Lincoln masih mendorong  amandemen ke-13 Konstitusi AS untuk menghapuskan perbudakan. Dan proyek Lincoln itu berhasil. Sayang, keberhasilan Lincoln itu harus ditebus dengan nyawanya.

Pada 14 April 1865, saat sedang menyaksikan pertunjukan teater, Abraham Lincoln ditembak oleh oleh seorang pemain teater, John Wilkes Booth, yang disusupkan oleh kelompok pro-perbudakan. Lincoln tercatat sebagai Presiden pertama AS yang jadi korban pembunuhan.

Patrice Lumumba


7 Presiden Yang Terbunuh Akibat Skandal Politik

Dia dikenal sebagai bapak kemerdekaan Kongo. Ia lahir tahun 1925 di Provinsi Kasai, Kongo. Tahun 1944, ketika tinggal di Stanleyville, gerakan “évolués” (berkembang), yakni sekelompok pemuda berpendidikan Kongo yang dipersiapkan untuk “memberadabkan” negerinya—mirip dengan golongan etis di Indonesia di jaman kolonial.

Tahun 1957, Lumumba pindah ke Leopoldville—sekarang Kinshasa. Di kota inilah Lumumba menemukan kesadaran politiknya dan bergeser ke nasionalis-kiri.

Pada tahun 1959, Lumumba memimpin sebuah partai berhaluan pro-pembebasan nasional, Gerakan Nasional  Congolais (MNC). Karena haluan politiknya yang radikal, MNC segera meraih dukungan luas dari rakyat Kongo. Pada bulan Maret 1959, keanggotaan MNC sudah mencapai 58.000 orang.

4 Januari 1959, terjadi represi brutal. Sebuah aksi demonstrasi ditumpas secara brutal oleh Force Publique (tentara Kongo)—mirip KNIL di Indonesia. Ratusan rakyat tewas. Peristiwa ini mengubah kesadaran rakyat Kongo untuk tidak percaya dengan janji manis kolonialis Belgia.

Perlawanan muncul di mana-mana. Lumumba sendiri ditangkap karena aktivitasnya berpidato keliling mengagitasi massa rakyat. Dia baru dibebaskan setelah dirinya dipanggil berunding di Brussel, Belgia, awal tahun 1960.

Pada bulan Mei 1960, diselenggarakan pemilu nasional. Partainya Lumumba, MNC, berhasil memenangi pemilu. Artinya, kehendak rakyat untuk merdeka tak terbendung lagi. Dan, pada 30 Juni 1960, Lumumba membacakan proklamasi kemerdekaan.

Sayang, kekuatan yang selama ini menghisap Kongo, yakni kolonialisme Belgia, imperialisme AS, dan elit-kaya Kongo, tak nyaman dengan kemerdekaan itu. Mereka kemudian bekerjasama dengan elit lokal bernama Moise Tshombe, pimpinan partai reaksioner Conakat yang pro-penjajahan.

Sejak itulah Kongo terjerumus dalam kekacauan. Imperalisme AS punya andil dalam menciptakan kekacauan. bulan September 1960, setelah melalui konspirasi elit sayap kanan, kolonialis Belgia, dan Imperialisme AS, Lumumba dipecat oleh parlemen dari jabatannya. Tindakan ini dilawan oleh rakyat.

Joseph Mobutu, bekas seperjuangannya, berkhianat dan membelot mendukung Belgia dan AS. Mobutu-lah yang menggulingkan pemerintahan Lumumba. Namun, Lumumba masih sempat melarikan diri dari tahanan rumah dan berkeinginan mengorganisasikan perlawanan.

Sayang, tanggal 1 Desember 1960, langkahnya terhenti. Ia ditangkap tentara pro-Mobutu. Lumumba dan dua kawannya dieksekusi tanggal 17 Januari 1961. Mayatnya dipotong-potong kemudian dibakar tanpa menyisakan bekas.

Salvador Allende

7 Presiden Yang Terbunuh Akibat Skandal Politik

Salvado Allende adalah Presiden ke-29 Chile. Ia menjadi Presiden dari tahun 1970 hingga 1973. Yang menarik, Allende adalah presiden berhaluan marxis pertama di Amerika Latin yang berhasil merebut kekuasaan melalui jalan parlemen.

Allende memenangkan pemilu pada September 1970 melalui kendaraan politiknya, Unidad Popular, dengan perolehan suara 37%. Unidad Popular sendiri merupakan gabungan Partai Sosialis, Partai Komunis, dan sejumlah kelompok radikal.

Semasa berkuasa, Allende melakukan sejumlah kebijakan progressif, seperti land-reform (reforma agraria), menaikkan upah buruh, dan menasionalisasi sejumlah aset strategis. Hampir 60% bank swasta beralih ke tangan kepemilikan publik.

Karena langkah-langkah progressif inilah, banyak kepentingan kapitalis, baik domestik maupun asing, yang terancam. Mereka pun—dengan sokongan AS—melancarkan upaya mendestabilisasi pemerintahan Salvador Allende.

Meski begitu, rakyat Chile tetap berpihak ke Allende. Pada 4 September 1973, sedikitnya 800.000 rakyat Chile bergerak ke Istana Moneda, Istana Kepresidenan Chile, untuk menyatakan dukungan terhadap pemerintahan Salvador Allende.

Rakyat saat itu meneriakkan: “Allende, Rakyat membelamu; memukul kaum reaksioner!” Saat itu, rakyat Chile meminta dipersenjatai untuk melawan ancaman sayap kanan, tetapi kurang direspon oleh pemerintahan Allende.

Sebaliknya, pada 11 September 1973, sayap kanan yang dikomandoi Augusto Pinochet melancarkan kudeta militer. Istana Moneda dikepung oleh tank dan dibombardir oleh pesawat tempur. Salvador Allende memilih tidak menyerah dan bersiap bertempur hingga akhir. Saat itu, ia turut menenteng senjata AK-47.

Beberapa versi menyebutkan, Allende melakukan bunuh diri dengan senjata AK-47 yang dipegangnya. Namun, melalui film dokumenter yang dibuatnya pada tahun 2004, Patricio Guzmán menyimpulkan bahwa Allende bunuh diri dengan pistol. Tetapi, kontroversi kematian Allende belum berakhir. Banyak rakyat Chile yang menyakini bahwa Allende dibunuh oleh militer pendukung Pinochet.

Amilcar Cabral

7 Presiden Yang Terbunuh Akibat Skandal Politik

Dia dikenal sebagai bapak kemerdekaan Guinea Bissau. Ia lahir di Bafata, Guinea, tanggal 12 September 1924. Ia sempat kuliah di Universitas Lisbon dan meraih gelar sarjana pertanian.

Setelah kembali ke negerinya, ia sempat menjadi ahli pertanian di administrasi kolonial. Namun, penderitaan rakyat telah mengubah jalan pikirannya. Ia pun mengorganisasikan perlawanan.

Tahun 1956, Ia membentuk Gerakan Pembebasan Rakyat Angola (MPLA). Pada tahun yang sama, ia juga mendirikan Partai Afrika untuk Kemerdekaan Guinea-Bissau dan Kepulauan Cape Verder (PAIGC).

Cabral kemudian memimpin perjuangan bersenjata gerilyawan PAIGC melawan kolonialisme Portugis. Tahun 1972, Cabral mulai membentuk Majelis Rakyat sebagai persiapan untuk kemerdekaan penuh. Sayang, ketika ia sedang bersiap menuju Kongres Nasional untuk mengesahkan UU dan deklarasi kemerdekaan, seorang agen Portugis menembaknya hingga mati. Itu terjadi tanggal 20 Januari 1973.

Thomas Sangkara

7 Presiden Yang Terbunuh Akibat Skandal Politik

Thomas Sangkara adalah bapak kemerdekaan Burkina Faso, negeri kecil di Afrika Barat. Dia lahir 21 Desember 1949 di Yako, Burkina Faso. Setelah tamat sekolah, ia menjadi anggota militer.

Ketika ia dikirim ke Madagaskar, ia menyaksikan pemberontakan rakyat di sana. Kejadian itu sangat mempengaruhinya. Ia pun mulai menggandrungi pemikiran Karl Marx dan Lenin. Ia membangun sel marxis di kalangan tentara.

Pada tanggal 4 Agustus 1983, Thomas Sangkara melakukan pemberontakan bersenjata. Dan berhasil. Begitu berkuasa, ia sangat ingin menjadikan Burkino Faso sebagai negeri merdeka, anti-kolonialisme, dan anti-imperialisme.

Meski ia anggota militer, tetapi Sangkara percaya pada kekuatan rakyat. Seruan pertamanya ketika berkuasa adalah pembentukan komite-komite revolusioner. Komite-komite inilah yang menjadi landasan bagi partisipasi rakyat dalam revolusi. Komite ini disebut “Komite Untuk Pertahanan Revolusi (CDR)”.

Ia juga mengobarkan perang terhadap korupsi. Ia juga memangkas gaji pejabat negara. Sebaliknya, kapten berusia 33 tahun ini menyerukan “hidup sederhana”. Ia menerima gaji sangat kecil, menolak fotonya di pasang di gedung-gedung, dan meminta tiket ekonomi untuk semua kunjungannya ke luar negeri.

Untuk keluar dari ketergantungan terhadap imperialis, Sangkara mendorong rakyatnya untuk berproduksi untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam sebuah pertemuan, Kapten Sankara bertanya, “Di mana imperialisme itu?”. Lalu, ia menjawab sendiri, “Lihatlah piring anda ketika makan. Kau akan melihat jagung impor, beras, dan gandum. Inilah imperialisme.”

Tentu, imperialis tak senang dengan langkah-langkah Sangkara. Akhirnya, pada 15 Oktober 1987, Kapten Sankara dan 12 kawannya dibunuh oleh kekuatan kontra-revolusioner yang dipimpin oleh Blaise Compaore.
loading...

Perhatian :
Buat kawan-kawan semua jika suka dan ingin mengcopy paste artikel dari anakregular.com Ada kiranya, kawan-kawan yang baik hati untuk mencantumkan link sumber yang aktif dari blog anakregular.com. Karena satu link yang Anda ambil dan ditaruh di blog atau media sosial lainnya sangatlah penting bagi kami. Terima Kasih.