Kisah Bung Hatta, Bapak Proklamasi Yang Sederhana

AnakRegular | Inilah kisah bung Hatta, bapak proklamasi Indonesia yang kehidupannya sangat sederhana, sangat mengutamakan rakyat dan negara daripada dirinya dan keluarganya.
Kisah Bung Hatta, Bapak Proklamasi Yang Sederhana

Kisah Kesederhanaan Bung Hatta Bapak Proklamasi Indonesia | Tak terasa telah 70 tahun lamanya Indonesia merdeka. Banyak hal yang telah berubah dari Indonesia, dari sebelumnya sebuah jajahan negara Belanda Inggris, dan Jepang, kini Indonesia menjadi negara Merdeka yang telah diakui Dunia. Tepat tanggal 17 agustus nanti Indonesia akan merayakan hari jadi kemerdekaan NKRI yang ke 70.

Kemerdekaan Indonesia tak pernah lepas dari pengorbanan para pahlawan negara di masa lalu. Para pahlawan yang gencar melawan penjajah guna memerdekakan negara Indonesia. Salah satu pahlawan yang sangat berjasa kepada seluruh rakyat Indonesia adalah Bung Hatta.

Sosok pria tegap yang mempunyai andil besar atas kemerdekaan Indonesia. Beliau adalah wakil presiden pertama Republik Indonesia yang ikut bersama Bapak Soekarno dalam membacakan Naskah Proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945. Beliau adalah sosok pahlawan yang sederhana, dan sangat merakyat. Tak seperti pejabat sekarang yang hidup dalam kesenangan dan kemakmuran. Beliau sekalipun menjadi orang no 2 paling penting di Indonesia, ia tetap menjadi seorang pemimpin yang sederhana, sama-sama hidup sederhana bersama rakyatnya :

Berikut adalah Kisah kesederhanaan Bung Hatta yang selalu kita rindukan :

Jawaban Bung Hatta Saat Presiden Soekarno di Hina

Kisah itu diceritakan Bung Hatta di sela-sela pertempuran 10 November. Saat itu Inggris meminta Presiden Soekarno berbicara pada rakyat Surabaya supaya menahan diri. Sebab sudah tercapai perdamaian antara kedua pihak.

Bung Tomo, tokoh pemuda Surabaya pun sudah melakukan hal itu. Dia telah bicara dengan lantang di radio, intinya menahan diri bukan berarti kalah oleh Inggris, tetapi demi terwujudnya perdamaian.

Namun rumor yang berkembang di kalangan para pemuda pergerakan di Jakarta lain lagi. Rumornya, Soekarno meminta rakyat Surabaya agar menyerah. Soekarni, seorang tokoh pemuda saat itu pun menemui Bung Hatta di kediamannya.

"Soekarno telah menyerah kepada kemauan Inggris, oleh karena itu tidak pantas lagi menjadi Presiden Republik Indonesia," kata Soekarni pada Mohammad Hatta.

Dengan tenang Hatta menjawab. "Dan siapa penggantinya?"

"Tan Malaka," jawab Soekarni.

Hatta menegaskan pada Soekarni, bahwa Republik Indonesia bukanlah suatu perkumpulan yang ketuanya dapat diganti saja atas tuntutan beberapa pemimpinnya, Republik Indonesia adalah suatu negara yang presidennya dipilih dengan cara tertentu menurut Undang-undang Dasar.

"Cobalah saudara pelajari UUD negara kita itu. Selain daripada itu, tidak benar pula yang saudara tuduhkan kepada Soekarno," kata Hatta pada Soekarni.

Hatta lalu menjelaskan peristiwa yang terjadi di Surabaya. Dia paham betul apa yang terjadi di sana, karena langsung berada di Surabaya. Tidak cuma mendengar desas-desus.

"Sesudah itu, Soekarni tidak dapat berkata lagi dan akhirnya dia meninggalkan rumahku," kata Hatta.

Bung Hatta Tak bisa bayar uang PDAM

Ali Sadikin terhenyak mendengar kabar itu. Mantan Wakil Presiden Mohammad Hatta tak mampu membayar iuran air PAM. Saking kecilnya uang pensiun, Hatta juga kesulitan membayar listrik dan uang pajak dan bangunan. Gubernur legendaris Jakarta itu terharu melihat kondisi Hatta. Seorang pemimpin yang jujur hingga hidup susah di hari tua.

"Begitu sederhananya hidup pemimpin kita pada waktu itu," kata Bang Ali terharu. Hal itu dikisahkan Bang Ali dalam biografinya Bang Ali, Demi Jakarta 1966-1977 yang ditulis Ramadhan KH.

Bang Ali tak cuma terharu, dia langsung bergerak. Sang Letnan Jenderal Marinir itu melobi DPRD DKI untuk menjadikan Bung Hatta sebagai warga kota utama. Dengan begitu Bung Hatta terbebas dari iuran air dan PBB. 

DPRD setuju. Pemerintah Pusat juga memberikan sejumlah bantuan, di antaranya bebas bayar listrik. Ironi, seorang proklamator, mantan wakil presiden, mantan perdana menteri dan seorang Bapak Bangsa Indonesia tak punya uang untuk membayar listrik dan air. Tapi itulah kejujuran seorang Mohammad Hatta. Padahal jika mau main proyek, Hatta tentu bisa kaya tujuh turunan macam pejabat bermental bandit.

Banyak kisah kesederhanaan Hatta yang bisa membuat air mata meleleh. Saat Hatta tak bisa membelikan mesin jahit untuk istrinya karena kekurangan uang. Atau sepatu Bally yang tak terbeli hingga akhir hayatnya. Guntingan iklan sepatu itu masih tersimpan rapi di perpustakaannya. Namun sepatunya tak terbeli oleh sang proklamator.

Hatta tak meninggalkan banyak uang. Dia mewariskan keteladanan untuk Bangsa ini. Keteladanan yang kini makin jauh dengan perilaku korup para pejabat negara.

Hidup dalam Kesederhanaan

Jika ada sosok yang membuat Jenderal Hoegeng merasa kagum akan kejujuran seseorang, maka Mohammad Hatta orangnya. Hatta adalah wakil presiden pertama Republik Indonesia, juga pernah menjabat sebagai Perdana Menteri. Jabatan mentereng yang bisa membuat seseorang kaya tujuh turunan. Namun Hatta bukanlah pejabat bermental tikus seperti para tahanan KPK sekarang.

Jika Jenderal Hoegeng yang terkenal paling jujur saja sampai kagum, maka bisa dibayangkan bagaimana hebatnya Hatta.  Hatta adalah sosok yang membuat Hoegeng selalu malu untuk melakukan tindakan hina seperti korupsi. Apalagi Hoegeng tahu bagaimana melaratnya Hatta setelah mundur sebagai Wakil Presiden tahun 1956.

"Ketika Bung Hatta mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden, diberitakan dia hanya memiliki uang tabungan Rp 200. Uang pensiunnya pun tak cukup untuk membayar biaya listrik," tulis Jenderal Hoegeng dalam memoarnya.

Berapa nilai uang Rp 200 pada saat itu jika dihitung dengan kondisi sekarang? Seorang prajurit TNI berpangkat prajurit satu bercerita pada merdeka.com, saat tahun 1956, gajinya Rp 125 per bulan. Tak cukup untuk hidup sebulan. Biasanya hanya cukup dua minggu, setelahnya sibuk hutang sana-sini.

Ironi, seorang wakil presiden hanya memiliki uang nyaris setara dengan prajurit TNI berpangkat paling rendah.

Saat pensiun, Hatta juga menolak semua jabatan komisaris BUMN atau posisi lain yang sebenarnya bisa membuatnya hidup enak. Tapi sudah jadi rahasia umum jika komisaris BUMN hanya makan gaji buta. Hatta tak sudi memeras bangsanya dengan menduduki jabatan seperti itu.

Seperti kata-katanya yang akan abadi sepanjang zaman.

"Indonesia merdeka bukan tujuan akhir kita. Indonesia merdeka hanya syarat untuk bisa mencapai kebahagiaan dan kemakmuran rakyat.."

Maka terpujilah pejabat sepertimu Bung Hata.


loading...

Perhatian :
Buat kawan-kawan semua jika suka dan ingin mengcopy paste artikel dari anakregular.com Ada kiranya, kawan-kawan yang baik hati untuk mencantumkan link sumber yang aktif dari blog anakregular.com. Karena satu link yang Anda ambil dan ditaruh di blog atau media sosial lainnya sangatlah penting bagi kami. Terima Kasih.