Pejabat Negara Indonesia Tanpa Gelar Sarjana

AnakRegular | Inilah Tiga Pejabat dan Pemimpin Negara Indonesia Yang Tak Memiliki Gelar Sarjana :

Seorang pemimpin tidak selamanya harus memiliki riwayat pendidikan yang tinggi. Yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pemimpin yang baik dan juga dicintai oleh bawahannya adalah pemimpin yang bijaksana, tegas, adil serta dapat memberikan suatu perubahan yang baik bagi rakyatnya.

Namun untuk saat ini sejatinya menjadi seorang pemimpin haruslah memiliki tinggat pendidikan yang tinggi serta gelar sarjana di namanya yang menjadi simbol seorang pemimpin yang berpendidikan. Tapi berbeda dengan para pemimpin dan pejabat dibawah ini. Mereka adalah para pemimpin dan pejabat yang tidak memiliki gelar sarjana di belakang atau didepan namanya, namun bisa menjadi orang hebat yang memimpin negara serta memberikan perubahan yang besar bagi perkembangan negara.

Dibawah ini adalah para pemimpin dan pejabat Indonesia yang tidak pernah mendapatkan gelar sarjana namun bisa menjadi seorang pemimpin negara yang tegas dan memberikan dampak besar bagi negara. Kontribusi mereka sangat berharga bagi perkembangan dan kemajuan negara Indonesia. 

Lantas siapa saja pemimpin dan pejabat Indonesia yang tanpa gelar sarjana dalam kepemimpinannya? Mari simak tiga pejabat dan pemimpin negara Indonesia tanpa gelar sarjana, namun telah memberikan perubahan besar bagi Indonesia :

Adam Malik

Pejabat Negara Indonesia Tanpa Gelar Sarjana

Adam Malik adalah anak dari pasangan Abdul Malik Batubara dan Salamah Lubis. Adam Malik lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, pada 22 Juli 1917. Adam Malik adalah anak ketiga dari sepuluh bersaudara. Ayahnya adalah seorang saudagar kaya raya di Pematangsiantar.

Adam Malik mulai menimba ilmu di Sekolah Dasar di Hollandsc-Inlandsche School Pematangsiantar, sekolah tersebut adalah sekolah dari Belanda. Setelah tamat, ia melanjutkan pendidikannya di Sekolah Agama Madrasah Sumatera Thawalib Parabek di Bukittinggi. Meskipun demikian, Adam Malik keluar dari sekolah tersebut, dia hanya menuntut ilmu di sekolah tersebut sekitar satu setengah tahun saja. Kemudian, dia kembali pulang kampung dan membantu orang tuanya berdagang.

Karier Adam Malik dimulai saat ia merantau ke Jakarta. Saat itu ia menjadi seorang wartawan sekaligus dia juga berpatisipasi dalam pendirian Kantor Berita Antara di Jl. Pinangsia II, Jakarta Utara, sebelum pindah ke Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Adam Malik telah banyak berkontribusi dalam pergerakan nasional memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Di zaman penjajahan Jepang, Adam Malik juga aktif bergerilya. Dia juga pernah membawa Soekarno dan Moh. Hatta ke Rengasdengklok, Karawang untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Saat itu, Adam Malik bersama Sukarni, Chaerul Shaleh, dan Wikana.

Karier Adam Malik di dunia internasional terbentuk ketika diangkat menjadi Duta Besar luar biasa dan berkuasa untuk di negara Uni Soviet dan Polandia. Pada tahun 1962, ia menjadi Ketua Delegasi Republik Indonesia untuk perundingan Indonesia dengan Belanda mengenai wilayah Irian Barat di Washington D.C. Amerika Serikat.

Selain itu, Adam Malik juga pernah terpilih sebagai Ketua Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-26. Perlu diketahui, satu-satunya orang Indonesia yang pernah menjabat jabatan tersebut yakni baru Adam Malik.

Selain itu, di pemerintahan Indonesia, Adam Malik pernah menjabat diantaranya sebagai Menteri Luar Negeri, dan menjadi Wakil Presiden Indonesia yang ketiga.

Selain itu, ada yang menarik dari Adam Malik. Sebagi seorang diplomat, wartawan dan birokrat, ia memiliki jargon yakni "Semua bisa diatur". Ia memang dikenal selalu mempunyai '1001' jawaban atas segala macam pertanyaan dan permasalahan yang dihadapkan kepadanya. Dia juga dijuluki sebagai si kancil, ia memang memiliki postur tubuh yang tidak terlalu besar.

Setelah mengabdikan diri demi bangsa dan negara Indonesia. Adam Malik yang usianya tidak muda lagi terserang kanker lever. Dan pada akhirnya, ia meninggal pada 5 September 1984 di Bandung. Atas jasa-jasanya tersebut, ia juga pernah dianugerai berbagai penghargaan, diantaranya adalah Bintang Mahaputera kl. IV tahun 1971, Bintang Adhi Perdana kl. II tahun 1973, dan yang terakhir pada tahun 1998, dia diangkat sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soeharto.

Baca Juga : Kisah Kesederhanaan Bung Hatta Yang dirindukan

Soeharto

Pejabat Negara Indonesia Tanpa Gelar Sarjana

Soeharto adalah anak dari pasangan Sukirah dan Kertosudiro, yang lahir pada 8 Juni 1921 di Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta. Soeharto adalah anak ketiga Kertosudiro dengan Sukirah yang dinikahinya setelah lama menduda. Sebelumnya, Kertosudiro menikah dengan istri pertama dan dikarunia dua anak. Meskipun demikian, tidak lama setelah Soeharto lahir, kedua orang tuanya bercerai. Kemudian, Sukirah menikah lagi dengan Pramono dan dikaruniai tujuh anak.

Belum genap 40 tahun, Soeharto harus diasuh oleh Mbah Kromo karena ibunya sakit dan tidak bisa menyusui. Ketika memasuki usia delapan tahun, Soeharto tinggal bersama Mbah Atmosudiro, ayah dari ibunya. Soeharto masuk ke Sekolah Dasar (SD) di Desa Puluhan, Godean. Tetapi, ia pindah ke SD Pedes (Yogyakarta) lantaran ibu dan ayah tirinya pindah ke Kemusuk Kidul, Yogyakarta.

Setelah tamat SD, kemudian Soeharto melanjutkan pendidikanya ke jenjang yang lebih tinggi ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah di Yogyakarta. Ia banyak belajar menghitung serta mendapatkan pelajaran Agama di sekolah tersebut.

Tamat dari SMP, Soeharto sebenarnya ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Apa daya, keluarganya tidak mampu membiayai karena keterbatasan ekonomi. Di usia remaja, Soeharto mencari pekerjaan, dan dia baru diterima menjadi anggota Koninklijk Nederlands Indisce Leger (KNIL). KNIL merupakan tentara kerajaan Belanda. Dan disinilah karier militernya dimulai.

Terakhir di dunia militer, Soeharto menjabat sebagai Mayor Jenderal (Mayjen) dan dilantik sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat yang bertugas untuk merebut Papua dari Belanda serta membubarkan G-30-S/PKI

Singkat cerita, karena situasi politik Indonesia saat itu kacau setelah meletusnya G-30-S/PKI, Sidang Istimewa MPRS pada Maret 1967, Jenderal Soeharto ditunjuk sebagai Presiden berdasarkan Tap MPRS XXXIII/1967 pada Februari 1967, Soeharto kemudian menerima penyerahan kekuasaan pemerintahan dari Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno.

Presiden Soeharto hampir 32 tahun menjabat sebagai Presiden Indonesia melalui enam kali pemilu, dan pada akhirnya ia mengundurkan diri pada 21 Mei 1998. Selama menjabat sebagai Presiden, telah banyak yang ia lakukan untuk Indonesia. Bahkan, Soeharto dijuluki sebagai Bapak Pembangunan Nasional.

Selain itu, ia juga mendapatkan penghargaan dari Organisasi Pangan dan Pertanian dunia (FAO) karena berhasil swasembada pangan pada tahun 1985.

Soeharto wafat pada hari Minggu, 27 Januari 2008 sekitar pukul 13.10 WIB. Ia meninggal pada usia 87 tahun setelah dirawat selama 24 hari di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta. Ia banyak berkontribusi bagi negara Indonesia, meskipun ia sering dihujat karena masalah HAM dan kebebasan Pers.

Susi Pudjiastuti

Pejabat Negara Indonesia Tanpa Gelar Sarjana

Nah, yang ketiga adalah Susi Pudjiastuti, nama beliau mulai terkenal oleh publik saat beliau ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Perikanan dan Kelautan. Tidak hanya itu, nama beliau semakin dikenal karena gayanya yang nyentrik. Selain merokok, beliau juga memiliki beberapa tato di tubuhnya.

Sebelum menjadi seorang menteri, Susi Pudjiastuti adalah seorang CEO sekaligus pemilik maskapai penerbangan, Susi Air. Namun, apakah Anda tahu bahwa Susi Pudjiastuti seorang menteri sekaligus pemilik maskapai penerbangan itu tidak tamat hingga sekolah menengah atas (SMA). Ya, wanita kelahiran 15 Januari 1965 itu memang tidak lulus hingga SMA. Bukan karena masalah biaya, melainkan Susi dikeluarkan saat kelas 2 SMA akibat keaktifannya dalam gerakan golput.

Beliau mulai memulai usahanya dengan menjual perhiasannya dan mengumpulkan modal Rp 750.000 untuk menjadi pengepul ikan di Pangandaran pada tahun 1983. Usahanya itu semakin berkembang, sehingga ia berhasil mendirikan pabrik pada tahun 1996.

Anak dari pasangan H. Karlan dan Hj. Suwuh itu memutuskan membeli sebuah Cessna Caravan seharga Rp 20 miliar. Awalnya, pesawat itu hanya digunakan untuk mengangkut ikan dan lobster yang akan dipasarkan ke Jakarta dan Jepang. Call sign yang digunakan Cessna itu adalah Susi Air.

Seiring berjalannya waktu, saat bisnis perikanannya mulai merosot, ia mulai mengubah arah bisnisnya ke bisnis penerbangan. Susi Air semakin berkembang. Perusahaannya memiliki 32 pesawat Cessna Grand Caravan, 9 pesawat Pilatur Poster, 1 pesawat Diamond star dan 1 buah pesawat Diamond Twin Star.

Dari kisah tersebut, kita seharusnya bisa mengambil pelajaran, bagaimana seseorang tanpa gelar sarjana dapat meraih sukses serta dapat berkontribusi untuk negara Indonesia ini. Jika tanpa gelar sajarna saja bisa sukses, tidak mustahil bagi kita yang memiliki pendidikan tinggi untuk dapat berkontribusi dan memajukan negara ini.

Mengutip quote dari Ippho Santosa, "Mungkin ilmu di sekolah penting, tetapi ilmu di luar sekolah jauh lebih penting." Dengan demikian, sudah seharusnya kita harus berbuat banyak untuk memajukan negara tercinta kita, Indonesia.
loading...

Perhatian :
Buat kawan-kawan semua jika suka dan ingin mengcopy paste artikel dari anakregular.com Ada kiranya, kawan-kawan yang baik hati untuk mencantumkan link sumber yang aktif dari blog anakregular.com. Karena satu link yang Anda ambil dan ditaruh di blog atau media sosial lainnya sangatlah penting bagi kami. Terima Kasih.