Lima Pasangan Kekasih Yang di Bunuh Keluarganya Sendiri

Perkembangan jaman serta munculnya budaya-budaya baru nyatanya telah memberikan dampak yang sangat besar dalam kehidupan dunia. Hampir semua budaya tradisional hilang bahkan dilupakan oleh orang-orang yang ada saat ini. Perkembangan teknologi serta kehidupan yang lebih mudah telah membuat pandangan banyak orang berubah.

Saat ini, hampir tidak ada ukuran atau batasan yang menjadi pagar dinding antara si muda dengan si tua. Semuanya terlihat sama, bahkan aturan dulu yang menyatakan dimana yang muda harus hormat kepada yang tua kini hilang dan sudah ditinggalkan oleh orang-orang. Yang muda seakan tidak mau kalah dari yang tua, bahkan dalam urusan cinta pun yang muda ingin mencari dan memilih secara sendiri.

Berbeda dengan jaman dahulu, dimana dalam urusan cinta para orang tua kerap terlibat didalamnya. Kadang para orang tua lebih sibuk menyiapkan calon yang pas buat anaknya. Namun saat ini semuanya telah berubah, banyak anak muda yang enggan di jodohkan oleh orang tuanya. Para anak muda lebih senang mencari dan memilih sendiri pasangan yang pas bagi dirinya.

Namun apa daya, di berbagai tempat terutama di daerah yang masih memegang budaya tradisionalnya, beberapa keluarga masih tetap dengan pendiriannya, menjodohkan anaknya sesuai kriteria keluarga. Bahkan pihak keluarga tak segan memberi hukuman kepada anaknya yang tidak nurut dan menolak untuk dijodohkan. Seperti yang dialami oleh lima pasangan kekasih ini, harus kehilangan nyawa oleh keluarganya sendiri karena cinta mereka tidak direstui orang tuanya.

Berikut adalah kisah tragis pasangan kekasih yang dibunuh oleh keluarganya sendiri

Anak curi kondom, pria ini cekik putrinya hingga tewas

Lima Pasangan Kekasih Yang di Bunuh Keluarganya Sendiri

Asadullah Khan, 51 tahun, dan istrinya Shazia, 41 tahun, asal Pakistan diseret ke pengadilan karena membunuh putrinya bernama Lareeb Khan, 19 tahun. Pria muslim itu di persidangan mengaku mencekik anaknya hingga tewas setelah putrinya itu ketahuan mencuri kondom di sebuah toko karena ingin bercinta dengan pacar yang tidak direstui.

Tabloid Mirror melaporkan, dalam pengadilan di Darmstadt, Jerman, sang ayah mengatakan anaknya itu sudah membuat malu keluarga karena menjalin asmara dengan pria yang tidak disetujui olehnya. Sang ayah dan istrinya adalah pasangan yang menikah karena dijodohkan orangtua dan Asadullah juga ingin melakukan hal yang sama terhadap putrinya.

Khan mengaku membunuh Lareeb pada pagi hari 28 Januari lalu. Menurut koran Jerman Bild, peristiwa itu disaksikan oleh istrinya. Setelah dibunuh, jasad Lareeb kemudian diberi pakaian lalu dibawa turun apartemen dengan kursi roda. Mereka kemudian membawa mayat anaknya ke sebuah hutan dan membuangnya di sana.

Seorang pejalan kaki kemudian menemukan jenazah Lareeb sehari kemudian. Menurut pengaduan ibunya di pengadilan, Lareeb kabur dari rumah selama beberapa hari karena bertengkar dengan keua orangtuanya dan dia juga melepas jilbabnya.

"Suatu hari kami menerima surat dari polisi yang menyatakan anak kami mencoba mencuri kondom," kata sang ibu. Sejak menerima kabar dari polisi itu ayah Lareeb murka dan melarang anaknya keluar rumah hingga mereka membunuhnya.

Perempuan ini ditembak di hari pernikahan

Lima Pasangan Kekasih Yang di Bunuh Keluarganya Sendiri

Seorang perempuan India ditembak mati tepat di hari pernikahannya. Pelakunya ternyata masih sepupu dia. Surat kabar the Daily Mail melaporkan, dokter cantik Jaishri Namdeo tengah berdiri di pelaminan dengan suaminya di resepsi pernikahan diselenggarakan di Kota Bhopal. Tiba-tiba sepupunya Anurag Singh menembakkan peluru tepat di leher perempuan itu.

Anurag masuk ke resepsi dengan menyamar sebagai juru foto. Setelah melakukan aksinya dia hendak bunuh diri dengan menembakkan peluru ke kepalanya namun digagalkan oleh para tamu yang langsung mendorongnya ke lantai. Diduga Anurag mencintai Namdeo dan tidak rela dia menikah dengan pria lain. Lelaki itu ditahan oleh tamu hingga polisi datang.

Namdeo, seorang perawat, meninggal dalam perawatan di rumah sakit sebab peluru menembus terlalu dalam. Suaminya, Rohit, selamat dalam insiden itu. "Kami masih belum jelas motif pelaku. Namun dia mengatakan Namdeo pernah bersamanya. Itu saja," ujar juru bicara polisi tidak disebutkan namanya.

Gadis India meregang nyawa dipukuli keluarga

Lima Pasangan Kekasih Yang di Bunuh Keluarganya Sendiri

Seorang wanita muda di India dipukuli sampai mati oleh anggota keluarganya sendiri, sementara pacarnya dipenggal dalam sebuah aksi pembunuhan demi kehormatan. Insiden mengerikan ini terjadi setelah keduanya diiming-imingi akan dinikahkan usai kabur untuk melakukan kawin lari jika kembali.

Nidhi Barak (20 tahun), seorang mahasiswi jurusan seni rupa, dan pacarnya, Dharmender Barak (23 tahun), yang belajar di perguruan tinggi teknik, tewas pada Rabu malam di Desa Gharnavati, Negara Bagian Haryana, sambil disaksikan oleh warga lokal.

Nidhi dan Dharmendera diketahui kawin lari ke Ibu Kota New Delhi tiga hari lalu sebab keluarga mereka tidak menyetujui hubungan keduanya. Tapi mereka kemudian balik ke desa setelah terpancing dengan janji-janji bahwa keduanya tidak akan disakiti dan diizinkan menikah.

Orang tua Nidhi dan pamannya telah ditangkap. Polisi saat ini sedang melacak kakaknya dan anggota keluarga lainnya yang kabur usai insiden itu.

Menurut polisi, pasangan muda-mudi itu disiksa selama beberapa jam di rumah Nidhi, sebelum dia dipukuli sampai mati di depan umum. Dharmender juga dipukuli, lengan dan kakinya dipatahkan, sebelum dia akhirnya dipenggal. Tubuhnya diduga dibuang di dekat rumahnya di sebuah alun-alun di desa itu.

Polisi, yang telah diberitahu oleh seorang penduduk desa mengenai insiden itu, dilaporkan telah menangkap keluarga Nidhi yang sedang membakar tubuhnya dalam sebuah tumpukan kayu. Polisi menemukan tubuh Nidhi sudah terbakar setengah, sementara tubuh Dharmender telah dibawa untuk dilakukan otopsi.

Kepala polisi setempat, Anil Kumar mengatakan, selain membunuh Dharmender, mereka juga memenggal dia. "Kami telah menangkap ayah, ibu dan paman Nidhi, serta kami sedang mencari saudara, teman, dan pengendara mobil yang membawa pasangan itu kembali ke rumahnya di Desa Gharnavati."

"Keduanya berasal dari desa yang sama dan kasta yang sama. Ini merupakan aksi pembunuhan untuk mempertahankan kehormatan, tetapi pembunuhan itu tidak disetujui oleh masyarakat," lanjut dia.

Mahkamah Agung India mengatakan pada 2010 bahwa hukuman mati harus diberikan kepada orang-orang yang bersalah atas pembunuhan demi kehormatan, dan menyebut kejahatan itu sebagai tindakan barbar di Negeri Sungai Gangga itu.

Tidak ada jumlah resmi terkait insiden pembunuhan demi kehormatan di India. Namun, Asosiasi Perempuan Demokratis India mengatakan bahwa dari penelitian pihaknya menunjukkan ada sekitar seribu kasus seperti itu dalam satu tahun di seantero India.

Pasangan baru menikah digorok keluarga hingga tewas

Polisi Pakistan Juni tahun lalu mengatakan pasangan baru menikah (perempuan 17 tahun dan lelaki 31 tahun) di Desa Satrah, Provinsi Punjabi, diikat oleh keluarga mereka lalu digorok hingga tewas dengan sabit lantaran pernikahan mereka tidak disetujui.

Ibu dan ayah mempelai perempuan membujuk pasangan itu pulang ke rumah Kamis lalu. Mereka berjanji pernikahan pasangan muda baru menikah 18 Juni lalu itu akan direstui keluarga. "Ketika pasangan itu sampai mereka kemudian mengikat keduanya dengan tali," kata polisi setempat, Rana Zashid. "Dia (ayah mempelai perempuan) menggorok leher mereka."

Polisi kemudian menangkap keluarga pengantin perempuan. Mereka mengatakan malu atas pernikahan anak mereka bernama Muafia Hussein yang menikah dengan seorang pria dari suku lain.

Tradisi kolot di banyak wilayah di Pakistan seringkali menyebabkan seorang perempuan kehilangan nyawa karena dianggap membuat malu keluarga. Perempuan menikahi pria dicintainya kerap tidak diterima karena dianggap menghina keluarga yang akan menjodohkannya dengan pria lain.

Nikahi lelaki pilihannya, perempuan ini tewas dirajam

Lima Pasangan Kekasih Yang di Bunuh Keluarganya Sendiri

Seorang wanita 25 tahun dilempari batu hingga tewas oleh keluarganya sendiri di luar sebuah pengadilan di Pakistan dalam sebuah tindakan pembunuhan demi kehormatan sebab menikahi pria yang dicintainya. Ini seperti dikatakan polisi.

"Farzana Parveen saat itu sedang menunggu Pengadilan Tinggi di Kota Lahore, sebelah timur Pakistan, untuk dibuka, ketika sekitar belasan pria mulai menyerang dia dengan batu bata," kata Umer Cheema, seorang perwira polisi senior Pakistan, seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya, Rabu (28/5/2014).

Cheema mengatakan ayah perempuan itu, dua saudara laki-lakinya dan mantan tunangannya berada di antara para penyerang. Farzana menderita cedera parah pada bagian kepalanya dan dinyatakan meninggal di rumah sakit. Dia menjelaskan semua tersangka kecuali ayahnya berhasil melarikan diri. Ayah perempuan itu mengaku membunuh putrinya dan menjelaskan tindakan itu dilakukan sebab masalah kehormatan.

Banyak keluarga di Pakistan berpikir jika seorang wanita menikah dengan pria pilihannya sendiri akan membawa aib pada keluarga mereka.

Cheema mengatakan Farzana telah bertunangan dengan sepupunya tetapi menikah dengan pria lain. Keluarganya mengajukan kasus penculikan terhadap suami Farzana, namun putrinya itu datang ke pengadilan untuk menyatakan dia telah menikah atas kehendaknya sendiri.

Farzana dikatakan tengah hamil tiga bulan. Dia telah menikah dengan pria dicintainya bernama Muhammad Iqbal, seperti dikutip surat kabar the Daily Mail. Sekitar seribu perempuan Pakistan dibunuh setiap tahun oleh keluarga mereka terkait pembunuhan demi kehormatan. Ini menurut kelompok hak asasi asal Pakistan Aurat Yayasan.

Angka sebenarnya mungkin beberapa kali lebih tinggi sejak Yayasan Aurat hanya mengkompilasi angka dari laporan surat kabar. Sementara pemerintah tidak mengkompilasi statistik secara nasional.

Para pegiat mengatakan hanya beberapa kasus pembunuhan semacam ini diajukan ke pengadilan dan mereka yang melakukan pembunuhan demi kehormatan ini dapat memakan watu selama bertahun-tahun untuk disidang. Tidak ada pihak yang melacak berapa banyak kasus yang berhasil diadili.

Bahkan mereka yang diyakini melakukan pembunuhan seperti ini mungkin akan berakhir dengan pembebasan. Hukum Pakistan memungkinkan keluarga korban untuk memaafkan pembunuh mereka.

"Namun dalam pembunuhan demi kehormatan, sebagian besar para pembunuh perempuan itu adalah keluarga mereka sendiri," kata Wasim Wagha dari Yayasan Aurat. Undang-undang memungkinkan mereka untuk menentukan seseorang untuk melakukan pembunuhan, kemudian memaafkannya. "Ini adalah kesalahan besar dalam hukum," jelas dia. "Kami benar-benar berjuang tentang masalah ini."
loading...

Perhatian :
Buat kawan-kawan semua jika suka dan ingin mengcopy paste artikel dari anakregular.com Ada kiranya, kawan-kawan yang baik hati untuk mencantumkan link sumber yang aktif dari blog anakregular.com. Karena satu link yang Anda ambil dan ditaruh di blog atau media sosial lainnya sangatlah penting bagi kami. Terima Kasih.