Empat Hewan Percobaan Tak Lazim di Dunia

Dalam dunia medis manusia menggunakan hewan sebagai alat percobaan dalam pengembangan suatu penemuan obat. Beberapa hewan yang memiliki karakter mirip dengan manusia kerap sekali dijadikan sebagai sampel untuk mengetes suatu obat. Karenanya obat yang sering digunakan manusia sejatinya pernah di uji coba terlebih dahulu pada hewan.

Salah satu hewan yang sering di jadikan bahan uji coba oleh manusia adalah tikus. Hewan yang banyak menimbulkan masalah dalam rumah ini ternyata memiliki kesamaan hampir serupa dengan manusia. Tak heran jika 95 persen hewan percobaan di laboraturium adalah tikus. Akan tetapi, tahukah Anda bila ternyata ada banyak hewan tidak biasa di luar sana yang dipakai untuk binatang percobaan?

Meski terbilang aneh, dan langka hewan-hewan ini mempunyai beberapa kesamaan dengan manusia. Sehingga hewan-hewan ini di pakai untuk percobaan berbahaya yang tidak mungkin di lakukan langsung pada manusia. Nah berikut adalah empat hewan tak biasa yang dijadikan hewan percobaan oleh manusia dalam mengembangkan suatu penelitian.

Lalat buah

Empat Hewan Percobaan Tak Lazim di Dunia

Siapa sangka lalat buah atau Drosophila Melanogaster adalah kelinci percobaan penting bagi manusia? Ya, di dunia genetika, lalat buah sudah menjadi raja kelinci percobaan selama hampir 100 tahun terakhir.

Lalat buah banyak dipakai untuk penelitian tentang penyakit yang diderita oleh manusia. Selain mudah diternak, lalat ini bisa bertelur ratusan bahkan ribuan hanya dalam satu minggu. Sehingga ilmuwan bisa dengan mudah mengamati jika ada mutasi.

Kromosom lalat buah pun sangat besar dan mudah dipetakan. Dan yang paling penting, sekitar 75 persen gen manusia yang terinfeksi penyakit bisa ditemukan di lalat buah. Selain itu, lalat buah juga memiliki gen hox, gen yang sama pada manusia yang menentukan pertumbuhan anggota tubuh saat masih dalam kandungan.

Ferret

Empat Hewan Percobaan Tak Lazim di Dunia

Salah satu kekurangan dari tikus ketika akan dijadikan binatang penelitian adalah tidak bersin, oleh karena itu mustahil untuk memakai hewan ini sebagai kelinci percobaan untuk penyakit influenza atau flu. Untungnya, ilmuwan sudah mendapat pengganti tikus, yakni ferret. Ferret atau Mustela putorius furo, adalah mamalia berbulu yang berkerabat dengan berang-berang dan musang.

Ferret bisa bersin dan mengalami penyakit pernapasan lain, seperti flu. Jika ferret bisa sakit seperti manusia, maka perawatan sakit si ferret bisa diterapkan pada manusia. Oleh karena itu ilmuwan sejak lama melakukan percobaan vaksin dan obat-obatan untuk penyakit pernapasan pada hewan lucu ini.

Berkat hal ini, manusia bisa selangkah lebih maju soal infeksi virus flu, menghindari korban jiwa besar akibat virus flu yang kini sudah berevolusi dan mengakibatkan banyak penyakit berbahaya, seperti flu babi.

Bulu babi

Empat Hewan Percobaan Tak Lazim di Dunia

Percaya atau tidak saat masih dalam tahap pertumbuhan awal, seperti dalam kandungan, manusia sangat mirip dengan bulu babi atau landak laut (Echinoidea). Kesamannya mungkin akan membuat anda kaget, kita dan bulu babi sama-sama tumbuh dari anus.

Saat manusia pertama kali berkembang di dalam kandungan, bagian tubuh yang pertama muncul adalah anus kemudian terus tumbuh bagian-bagian lain tubuh. Hal ini juga terjadi pada bulu babi, sehingga ilmuwan mempelajari pertumbuhan awal manusia lewat hewan ini. Membuat ilmuwan tidak usah repot-repot dan membahayakan penelitian pada ibu hamil.

Terlebih, embrio bulu babi lebih mudah diamati karena berada di luar tubuh. Berbeda dari embrio manusia yang tersimpan dengan aman dalam lahir.

Cacing nematoda

Empat Hewan Percobaan Tak Lazim di Dunia

Cacing dengan nama latin Caenorhabditis elegans ini dipakai sebagai hewan percobaan bukan karena kemiripannya dengan manusia, tetapi akibat 'kesederhanaanya'. Ya, C. elegans hanya mempunyai maksimal 959 sel di tubuhnya.

Sehingga sangat mudah untuk meneliti perkembangan dari setiap sel di tubuh cacing ini. Tak aneh bila C. elegans menjadi hewan pertama yang susunan gennya bisa dipetakan ilmuwan.

Setiap sel dari cacing ini juga sangat peka terhadap teknik 'RNA interference' alias 'on/off' gen. Menggunakan teknik ini, ilmuwan bisa mematikan dan menghidupkan kembali gen si cacing secara berulang-ulang untuk mengungkap fungsi setiap gen dan kaitannya dengan penyakit.

Nah, itulah setidaknya empat hewan percobaan tak lazim di dunia, memang karena adanya kesamaan dengan manusia hewan-hewan tersebut harus mau menjadi kelinci percobaan dari tangan dingin manusia yang tak pernah ada puasnya..

t;/noscript>

loading...

Perhatian :
Buat kawan-kawan semua jika suka dan ingin mengcopy paste artikel dari anakregular.com Ada kiranya, kawan-kawan yang baik hati untuk mencantumkan link sumber yang aktif dari blog anakregular.com. Karena satu link yang Anda ambil dan ditaruh di blog atau media sosial lainnya sangatlah penting bagi kami. Terima Kasih.