Kisah Empat Orang Kaya Rela Jatuh Miskin Demi Keluarga

Kata orang, uang bisa membeli segalanya, hidup kaya dengan berlimpah harta katanya sangat menyenangkan. Dengan uang yang menumpuk di rekening bank, tentu tidak sulit untuk mendapatkan semua barang yang diinginkan. Rumah, Kendaraan, Bangunan, Tanah, Perhiasan dan lain sebagainya bisa kita dapatkan dengan uang yang kita miliki. Untuk itu banyak orang yang bekerja keras banting tulang siang dan malam hanya untuk mendapatkan kekayaan yang melimpah.

Namun ada kalanya orang kaya yang berlimpah harta selalu merasa hidupnya hampa dan tak bahagia. Ditengah gemilang harta yang dimiliki ternyata tak membuat hidupnya berwarna. Salah satu penyebabnya bisa jadi dari keluarganya sendiri. Waktu yang terus dikorbankan untuk bekerja ternyata telah membuat jarak dengan keluarga semakin menjauh. Walau tinggal satu rumah, namun waktu bersama tidak pernah dilakukan. Karena itu kebahagiaan dalam keluarga tidak bisa dibeli dengan uang semata.

Seperti yang dilakukan oleh orang kaya berikut ini, merasa tidak bahagia dengan kekayaan yang dimiliki orang kaya ini rela hidup miskin guna membahagiakan keluarganya. Ada yang keluar dari pekerjaan yang ber gaji fantastis hingga menjual semua aset kekayaan hanya untuk memulai hidup baru berbahagia dengan keluarga tercinta. Bagi mereka menghabiskan waktu lebih lama bersama keluarga adalah hal yang paling bahagia ketimbang menghabiskan waktu untuk mengumpulkan kekayaan yang tak membuat keluarga mereka bahagia.


Gan Lin

Kisah Empat Orang Kaya Rela Jatuh Miskin Demi Keluarga

Uang mungkin tidak bisa membeli segalanya. Namun, uang setidaknya bisa membuat seseorang melakukan sesuatu yang mungkin terdengar mustahil. Sebagai contoh, baru-baru ini seorang istri pengusaha kaya di China menyewa gunung untuk putrinya, supaya anak itu dapat belajar tentang alam dan melakukan berbagai aktivitas outdoor lainnya. 

Gan Lin, 33, dulunya berprofesi sebagai seorang guru. Namun, dia kini menghabiskan sebagian besar waktunya untuk merawat putri semata wayangnya. Yin Gan, putri Gan, sekarang duduk di bangku kelas empat sekolah dasar.

Gan yang baru menyadari bahwa putrinya memiliki sangat sedikit pengetahuan tentang alam, memutuskan untuk memecahkan masalah tersebut dengan membuang kelebihan uangnya dengan menyewa gunung. Dia membayar dewan lokal untuk menyewa gunung, termasuk sebuah lahan pertanian seluas 1,3 hektar yang berada di sana.

Gan diyakini telah menghabiskan sekitar USD 5.000 (Rp 57 juta) per bulan untuk putri dan teman-temannya, sehingga mereka bisa memiliki akses eksklusif ke gunung tersebut. Meski Gan sudah menyewa gunung dan daerah di sekitarnya, dia tetap membiarkan para petani tinggal di gubuk mereka. Namun, sebagai imbalannya, mereka harus mengajari anak-anak tentang cara menjaga pohon buah-buahan dan sayuran setiap harinya.

Zhu Chunxie

Kisah Empat Orang Kaya Rela Jatuh Miskin Demi Keluarga

Seorang pengusaha asal Kota Shanghai, China, sedang jadi pemberitaan publik karena menjual rumahnya di pusat kota. Uang hasil penjualan itu dia pakai keliling dunia bersama sang putri semata wayang, menggunakan mobil RV yang bisa ditinggali. Sosok menghebohkan itu bernama Zhu Chunxie. 

Pria keturunan Korea Selatan itu merasa bersalah pada putrinya yang sekarang berusia dua tahun, sebab selama ini terlalu sibuk bekerja. Selama 10 tahun terakhir, Chunxie punya beberapa bisnis yang berkembang baik. Rumahnya di Shanghai seluas 100 meter persegi, dengan harga 2 juta Yuan (setara Rp 4,33 miliar).

Dengan segala kesuksesan itu, ternyata hidupnya terasa hampa. Setelah ditinggal sang istri, Chunxie khawatir putrinya kesepian di rumah. Maka Juli lalu, rumah itu dijual. Mereka berangkat mulai Agustus keliling pelbagai negara. Chunxie dan putrinya baru akan pulang ke Shanghai lima tahun lagi. Banyak kolega mencibir keputusannya meninggalkan hidupnya yang terlanjur mapan. Tapi pria 35 tahun ini berkukuh pada pendiriannya.

Li Li Juan

Kisah Empat Orang Kaya Rela Jatuh Miskin Demi Keluarga

Namanya Li Li Juan, wanita berusia 47 tahun asal China. Konon dia adalah seorang jutawan, namun sekarang dia sudah bangkrut dan bahkan memiliki hutang hingga dua juta yuan (sekitar Rp 4,2 miliar). Kebangkrutannya bukan disebabkan oleh foya-foya atau hal buruk lainnya, namun justru untuk membantu anak-anak terlantar.

Selama 19 tahun, Li Juan mengadopsi 72 anak terlantar dan merawat mereka dengan uang yang dimilikinya. Li Juan menghabiskan semua uangnya demi anak-anak tersebut hingga saat ini dia jatuh miskin.

Pada tahun 1980-an, Li Juan menjadi jutawan berkat bisnis garmen dan investasinya di bidang pertambangan. Pada saat itulah dia mulai memperhatikan anak-anak yang terlantar dan sedang sakit. Anak-anak tersebut ditelantarkan oleh orang tuanya dan ada juga yang menjadi yatim piatu karena orang tuanya meninggal di pertambangan. Ini menggerakkan Li Juan untuk menggunakan kekayaannya demi menghidupi anak-anak tersebut.

Meski segalanya tampak berjalan lancar pada awalnya, namun akhirnya keuangan Li Juan harus terpuruk pada tahun 2008. Tambangnya harus ditutup sehingga pemasukannya berkurang. Namun dia tak menyerah merawat anak-anak tersebut. Dia menjual semua propertinya untuk menghidupinya.

Yang mengharukan, Li sendiri telah didiagnosis terkena kanker limfa pada tahun 2011. Namun setelah tujuh hari perawatan, Li menolak untuk dirawat. Dia lebih memilih untuk merawat anak-anak tersebut dan menggunakan uangnya untuk menghidupi mereka. Banyak orang yang mendonasikan uang mereka untuk merawat anak-anak itu, namun tetap saja pada akhirnya Li kekurangan uang. Hutangnya menjadi semakin banyak dan mencapai dua miliar yuan.

Banyak orang yang ingin mengadopsi anak-anak yang dirawatnya, namun sayangnya ini tidak bisa dilakukan. Karena anak-anak yang dirawat Li Juan tak terdaftar sebagai anak-anak panti asuhan dan tidak terdaftar secara hukum.

Meski Li memiliki 72 anak asuh, namun hubungannya dengan anaknya sendiri, Xiao Wen, justru renggang. Ini karena Li tidak hadir untuk merawat Xiao Wen ketika dia sedang mengalami kecelakaan tahun 2004. Saat itu, Li tengah merawat salah satu anak asuhnya yang terkena hydrocephalus. Setelah itu, Xiao Wen mengalami depresi dan menolak bicara dengan Li. Selanjutnya dia melakukan terapi dan tinggal bersama neneknya.

Penolakan Xiao Wen menjadi hantaman untuk Li Juan. Tetapi dia tak patah semangat. Dia tetap melanjutkan kegiatannya merawat 72 anak terlantar dengan bantuan orang-orang baik hati di sekitarnya.

El-Erian

Kisah Empat Orang Kaya Rela Jatuh Miskin Demi Keluarga

El-Erian, seorang CEO dengan penghasilan mencapai USD 100 juta per tahun, mengundurkan diri perusahaan dengan alasan keluarga. Dia mundur, karena hubungan dengan putrinya memburuk. Tetapi, rumor yang berkembang, pakar ekonomi lulusan Oxbridge tersebut mengundurkan diri sebagai CEO PIMCO investment fund, karena dia memiliki hubungan yang buruk dengan pendiri PIMCO, Bill Gross.

Tetapi El-Erian mengatakan, bahwa alasan utamanya meninggalkan PIMCO adalah percakapannya dengan putrinya, yang berusia 10 tahun usai menyuruhnya menyikat gigi. Percakapan tersebut, berujung pada catatan putrinya tentang 22 momen dalam hidup putrinya yang terlewatkan karena El-Erian terlalu sibuk bekerja.

Beberapa momen yang terlewatkan oleh ahli keuangan tersebut adalah hari pertama putrinya bersekolah, pertandingan futbol pertama putrinya, dan parade Halloween. Seperti dilansir timesofindia.indiatimes.com, El-Erian mengatakan bahwa semua insiden tersebut terjadi sebagai akibat dari pekerjaan yang mengharuskannya keliling dunia. 

Dia bercerita, saat dirinya meminta anaknya untuk menyikat gigi, putrinya meminta dirinya menunggu sebentar. Dia pun masuk ke kamarnya. "Dia kembali membawa secarik kertas. Ternyata itu adalah sebuah catatan daftar momen dan aktivitas pentingnya yang terlewatkan oleh saya karena komitmen pekerjaan. Mata saya terbuka karenanya," ungkapnya. 

Dia menegaskan kehidupan pekerjaannya serasa menjadi tidak seimbang karena telah menyakiti putrinya. "Saya merasa buruk sekali dan menjadi defensif. Saya mulai sadar bahwa saya melewatkan satu poin yang lebih penting." Master investasi, 56 tahun tersebut, kini menukar jabatannya di markas besar PIMCO California menjadi pekerja paruh waktu. Termasuk peran sebagai ketua penasihat perusahaan pusat PIMCO dari Jerman, Allianz.

Nah itulah kawan, nyatanya hidup kaya dengan harta berlimpah ternyata tidak membuat kita bahagia, memang pada dasarnya uang bisa membuat keluarga kita menjadi mapan dan pernah merasa kekurangan. Namun jika kita sibuk bekerja dan melupakan keluarga tentunya anak dan istri kita tidak akan pernah bahagia.

t;/noscript>

loading...

Perhatian :
Buat kawan-kawan semua jika suka dan ingin mengcopy paste artikel dari anakregular.com Ada kiranya, kawan-kawan yang baik hati untuk mencantumkan link sumber yang aktif dari blog anakregular.com. Karena satu link yang Anda ambil dan ditaruh di blog atau media sosial lainnya sangatlah penting bagi kami. Terima Kasih.