Lima Mualaf Wanita Paling Berpengaruh di Dunia

Bukan hal yang tabu lagi jika islam merupakan agama dengan penganut terbanyak di dunia. Islam juga merupakan salah satu agama dengan pertumbuhan tertinggi di dunia. Islam terus berkembang di berbagai negara yang sebelumnya penduduk islam nya sangat sedikit. Di negara-negara seperti Jepang, Australia, hingga Amerika Islam sudah mulai diterima.

Sebutan mualaf pun diberikan kepada mereka yang baru memeluk islam. Dengan mengucap dua kalimat syahadat para mualaf ini berikrar dan beriman untuk selalu menjalankan kewajiban-kewajiban agama islam. Seperti yang dilakukan oleh para mualaf wanita berikut ini. Walau masih baru dalam dunia islam nyatanya mereka telah melakukan hal yang sangat luar biasa bagi perkembangan ajaran agama islam.

Memang pada awalnya para mualaf ini sangatlah jauh bahkan tidak tahu akan agama islam sama sekali. Namun setelah menjadi seorang muslim mereka menjelma dan merubah pandangan jeleknya terhdap islam. Kini dengan segala pengetahuan dan kecintaan akan islam mereka telah berkorban dan berjuang memperjuangkan agama islam yang sebelumnya dianggap jelek oleh orang-orang non muslim. 


Ingrid Mattson

Lima Mualaf Wanita Paling Berpengaruh di Dunia

Islamic Society of North America (ISNA) tepat sekali memilih Ingrid Mattson sebagai orang nomor satu. Banyak orang sepakat bahwa sosok Ingrid sangat tepat untuk memimpin Komunitas Islam Amerika Utara, yang merupakan salah satu pemimpin agama yang kini cukup berpengaruh di Amerika Serikat.

Meski tumbuh dan besar dalam lingkungan Kristen di Kitchener, Ontario, Kanada, di usianya yang ke 16 tahun, Ingrid justru memutuskan berhenti pergi ke gereja. Saat itu Ingrid sempat menjadi atheis alias tidak memercayai Tuhan. Ingrid memilih fokus untuk menimba ilmu di Universitas Waterloo dan memilih jurusan Seni dan filsafat. Dan dari situ lah dirinya mengenal cahaya Islam.

Di Departemen Seni Rupa Universitas Waterloo, dia berkelana ke berbagai museum sejarah dan seni. Secara kebetulan, di Museum Louvre yang berada di tengah Kota Paris, dia berkenalan dengan beberapa Muslimah dari Senegal.

Mattson terpesona dengan ketulusan dan martabat yang dia lihat dari diri teman-teman Muslimnya itu. Bahkan di saat para muslim tersebut menghadapi prasangka buruk di sekelilingnya. Hal itulah yang kemudian membawanya untuk mempelajari Alquran. "Mereka punya kebijaksanaan yang seimbang," ujarnya.

Di tahun 1986, dia lalu memutuskan bersyahadat dan menjadi muslimah. Dia pun menukar pakaiannya dengan busana muslimah lengkap dengan jilbab. Saat itu usianya 23 tahun. Saat pertama kali salat, Mattson sangat terkejut oleh perasaan kedekatan dengan Tuhan yang telah hilang sejak remaja dari dalam dirinya. "Tuhan tidak lagi ada di gereja, tetapi ada di mana-mana. Dia ada di alam, seni dan wajah-wajah muslimah yang ikhlas," ujar Mattson.

Mattson mendapatkan gelar Ph.D. di studi Islam dari Universitas Chicago pada tahun 1999. Dia terus menjadi sangat aktif dalam mendidik Muslim Kanada untuk menjadi partisipan aktif dalam masyarakat Kanada pada umumnya.

Pada tahun 2001 Mattson terpilih menjadi Wakil Presiden ISNA. Selama menjadi wakil, Mattson dinyatakan memiliki reputasi dan nilai yang sempurna. Hal itulah yang kemudian pada tahun 2006 menghantarkannya terpilih sebagai presiden wanita pertama dalam organisasi itu.

Veronique Cools

Lima Mualaf Wanita Paling Berpengaruh di Dunia

Seorang wanita asal Belgia merelakan rumahnya digunakan sebagai pusat Islam bagi muslim yang ingin memperdalam ajaran ilmu Islam. Wanita itu memberikan rumahnya setelah menjadi muallaf.

Veronique Cools mengaku, menjadi seorang muallaf setelah mendapat pelajaran agama Islam dari temannya. Sejak itulah dia tertarik mempelajari Islam lebih dalam dengan merelakan rumahnya menjadi pusat kajian Islam bagi komunitas muslim di Belgia. "Sebagai Muslim kita perlu menjelaskan diri kepada masyarakat jauh lebih baik," kata Veronique kepada World Bulletin melaporkan, dikutip OnIslam.net.

Veronique mengatakan, selain tempat untuk mempelajari Islam, pusat kajian ini didirikan untuk menepis anggapan miring tentang Islam di Eropa termasuk Belgia. "Prasangka buruk berasal karena tidak diperkenalkan kepada Islam yang sesungguhnya benar," katanya.

Dia mengungkapkan, setelah delapan tahun berdiri, pusat kajian Islam dirumahnya telah memiliki lebih dari 1.000 anggota dan sebagian besar dari mereka wanita Belgia. Atas reaksi yang baik dari muslim di Belgia, dia pun mengundang terbuka untuk semua muslim Belgia yang tertarik untuk belajar lebih banyak tentang agama Islam ditempatnya.

Saat ini dari populasi 10 juta muslim Belgia diperkirakan mencapai 450.000 jiwa. Setengahnya merupakan muslim imigrasi asal Maroko dan 120.000 berasal dari Turki. Sementara sarana ibadah di Belgia cukup banyak, tercatat ada 77 masjid atau musala di Brussels dan lebih dari 300 di seluruh Belgia.

Anne William Kennedy

Lima Mualaf Wanita Paling Berpengaruh di Dunia

Anne William Kennedy, perempuan dan cendekiawan asal Inggris, beberapa lalu mantap memeluk Islam di Jalur Gaza, Palestina. Dia mengucapkan dua kalimat syahadat didampingi oleh Ketua Asosiasi Sarjana Palestina Dr. Salim Salama. Setelah selesai bersyahadat dan diteruskan doa, Anne dan Salim melakukan konferensi pers di kantor Asosiasi Sarjana Palestina diliput oleh beberapa stasiun televisi. Dia lalu mengganti namanya menjadi Khadijah Hassan.

Anne yakin memeluk Islam setelah dia bertukar pikiran dan berdialog dengan Yusuf Hassan, seorang pemuda asal Khan Yunis, Gaza Selatan. Sebelum memutuskan menjadi muslimah, pemegang gelar sarjana di bidang ekonomi, politik, dan filsafat itu membaca buku-buku tentang Islam.

Anne mengaku gembira setelah resmi menjadi muslimah dan bangga bisa berada di Jalur Gaza. Menurut dia kota itu tepat buat ditinggali kaum muslim. Dia masih mengajar agama di sebuah sekolah di Inggris sampai sekarang. Dalam konferensi pers, Salim Salama mengucapkan selamat kepada Anne yakin menjadi muslimah. Di akhir jumpa pers, dia memberikan sebuah mushaf Alquran dengan terjemahan Inggris kepada muslimah itu.

Susan Carland

Lima Mualaf Wanita Paling Berpengaruh di Dunia

Bagi seorang wanita, nampaknya sulit sekali mendapatkan gelar prestisius sebagai tokoh muslim paling berpengaruh di negaranya (Australian Muslim of the Year), mengalahkan para lelaki. Tetapi, itulah yang terjadi pada tokoh muslimah kenamaan di Australia bernama Susan Carland. Seorang wanita cantik yang bersuamikan Waleed Aly dan telah memiliki dua orang anak ini. 

Ya, pada tahun 2004 Susan mendapatkan penghargaan sebagai tokoh muslim paling berpengaruh di Australia. Sejak itu, sosoknya semakin dikenal luas di seluruh penjuru Negeri Kangguru, bahkan hingga ke negeri tetangga.

Penghargaan itu diberikan, tentu saja atas segala usahanya dalam mengembangkan Islam di sana. Salah satunya, adalah program Salam Cafe yang digagasnya. Program ini ditayangkan di televisi secara nasional dan bisa dinikmati oleh para pemirsa baik yang beragama Islam maupun non-Islam. Dengan program ini, ia banyak menerima penghargaan.

Selain membuat program televisi, Susan juga aktif sebagai pengisi seminar tentang keislaman dan juga pendakwah. Ia sering diundang sebagai pembicara di gereja, sekolah-sekolah, organisasi bisnis, organisasi kemasyarakatan bahkan komunitas Yahudi. Ia juga aktif di berbagai lembaga penelitian.

Atas kiprahnya itu, tak heran jika ia terpilih sebagai tokoh Muslim Australia tahun 2004 dan mendapatkan hadiah sebesar 2.000 dollar yang ia sumbangkan ke berbagai lembaga amal, baik lembaga muslim maupun non-Muslim.

Sebelum menjadi seorang muslim Susan Carland adalah seorang kristen yang sangat taat, bahkan sedari kecil ia sudah di dokrin kedua orang tuanya untuk tidak pernah mengenal dan mempelajari agama islam. Namun karena dirinya tidak puas dengan ajaran kristen ia pun akhirnya mencari dan mempelajari agama lain termasuk agama islam.

Yvonne Ridley

Lima Mualaf Wanita Paling Berpengaruh di Dunia

Orang biasa kemungkinan besar dilanda ketakutan selama disandera prajurit perang. Namun Yvonne Ridley berbeda. Justru karena penyandraan yang menimpanya, ia mulai mengenal dunia Islam. Yvonne yang sedang bekerja untuk media Sunday Express sempat ditahan oleh pasukan Taliban selama 10 hari.

Banyak hal yang berubah pada dirinya. Perempuan kelahiran Inggris, 23 April 1958 ini kini memilih Islam sebagai agamanya. Perjalanan hidup yang berliku telah banyak mempengaruhi kehidupannya. Khususnya adalah peristiwa penyanderaan dirinya oleh pasukan Taliban di Afghanistan 2001 silam. Ia ditangkap karena memasuki wilayah Afghanistan tanpa memiliki surat izin.

Awalnya, Yvonne dihantui perasaan takut. Ia mengira akan segera mati dalam tahanan Taliban. Walaupun pada saat itu para prajurit Taliban bersikap baik, tetapi rasa was-was terus bersemayam dalam diri perempuan itu. Baginya, disandera oleh Taliban adalah mimpi buruk yang  sangat menakutkan.

Pemberitaan-pemberitaan yang dilansir oleh berbagai media terhadap Taliban bisa dibilang sangat menakutkan. Yvonne terpengaruh dengan propaganda yang mengatakan Taliban sebagai rezim paling kejam di dunia. Sentimen-sentimen negatif itulah yang membuat dirinya berpikir tentang kematian selama ditahan. Yvonne terus memikirkan kapan saatnya orang jahat yang membawa alat penyetrum muncul dan menyiksa dirinya. Nyatanya, semua itu tak pernah terjadi.

Selama sepuluh hari dalam tahanan, ia melakukan mogok makan. Namun, para penahannya tetap menyajikan makanan untuknya tiga hari sekali. Setiap kali tiba waktu makan, mereka datang ke ruangannya dan mencuci tangannya dengan sekendi air. Rasa takut itu akhirnya sirna. Bayangan ketakutan yang dipikirkannya sama sekali tidak terbukti. Mereka selalu mengatakan kepadanya bahwa ia adalah tamu mereka. Mereka sungguh gusar karena ia tidak mau makan dan mencoba membujuknya agar mau makan, termasuk dengan menawarinya anggur.

Peristiwa penahanan oleh Taliban di Afghanistan itu telah merubah garis hidupnya. Keramahan para penyandera membuat dirinya mulai tertarik dengan Islam. Melalui serangkaian peristiwa penahanan dirinya,  ia kini justru mengenal Islam lebih dekat. Ia mematahkan stigma negatifnya tentang Islam. Kemudian, ia memilih menjadi mualaf.

Penggal-penggal cerita saat penyanderaan dirinya itu kini akhirnya mewujud menjadi sebuah buku berjudul, In The Hands of The Talibans. Buku itu  kini telah diterjemahkan oleh penerbit Mizan dengan judul Dari Penjara Taliban Menuju Iman.

Setelah penyandreaan berakhir, ia terlibat dalam gerakan anti-perang. Selain itu juga ia ikut ambil bagian dalam partai politik Respect. Pun, kini Yvonne memfokuskan reportasenya terhadap isu-isu kemanusiaan. Ia telah beberapa kali kembali ke Afganistan, juga mengunjungi Palestina dan Irak.

Yvonne membulatkan tekad untuk keluar dari Sunday Express. Kini bekerja untuk Aljazeera dan beberapa media Islam lainnya. Yvonne juga dikenal sebagai kolomnis yang sangat vokal dalam membela Islam. Lewat tulisan-tulisannya, Yvonne seolah ingin memberitahu dunia bahwa Islam tidak seseram apa yang dikatakan oleh banyak orang di dunia. 

Ia berusaha keras untuk melepaskan belenggu gerakan Islamophobia yang melanda dunia Barat dewasa ini. Yvonne terus berjuang membela Islam sesuai dengan kapasitasnya sebagai seorang jurnalis.

Secara keimanan, Yvonne mengaku merasa lebih tenang. Rasa takut berlebih akan kematian, kini tak lagi terjadi. Kini sebagai seorang Muslim, ia merasa lebih kuat dan sungguh-sungguh tidak takut pada apapun, kecuali kepada Allah.

Nah itulah kawan setidaknya lima mualaf wanita paling berpengaruh dan terkenal di dunia. Dengan berbagai perjuangan yang telah dilakukan mereka nyatanya nama islam sudah semakin banyak dikenal. Semoga akan ada lebih banyak muslim-muslim di dunia yang terus menjalankan dan mendakwahkan islam ke seluruh dunia :

t;/noscript>

loading...

Perhatian :
Buat kawan-kawan semua jika suka dan ingin mengcopy paste artikel dari anakregular.com Ada kiranya, kawan-kawan yang baik hati untuk mencantumkan link sumber yang aktif dari blog anakregular.com. Karena satu link yang Anda ambil dan ditaruh di blog atau media sosial lainnya sangatlah penting bagi kami. Terima Kasih.