Kisah Orang-Orang Yang Hidup Sebatang Kara di Tempat Ekstrem

Pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial yang artinya setiap manusia tidak bisa hidup sendiri karenanya membutuhkan bantuan manusia lainnya untuk menjalani kehidupan manusia. Meski begitu tidak sedikit juga orang yang memilih hidup menyendiri di tempat yang sangat jauh dari keramaian manusia. Dengan segala keterbatasan mereka belajar bagaimana bertahan hidup dari tempat yang sekarang mereka tinggali.

Seperti yang dilakukan oleh orang-orang dibawah ini, jauh dari keraimaian mereka tinggal sendiri dengan segala keterbatasan. Mereka tinggal di tempat yang tak biasa dimana untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari sangatlah susah. Namun dengan segala keyakinan ternyata mereka bisa menjalani kehidupan sendiri di tempat yang sangat jauh dari kehidupan manusia. Hebatnya lagi mereka merasa bahagia dengan kehidupan sendiri yang dijalaninya.

Berikut adalah lima kisah orang-orang hebat di dunia yang memilih hidup sendiri dan mengadu nasib di tempat yang sangat ekstrim tanpa bantuan orang lain. Mulai dari hidup pulahan tahun di hutan rimba hingga hidup sendiri di tempat yang sangat dingin yang secara logika dapat membahayakan hidup mereka. Berikut adalah kisah lima orang yang hidup sendiri di tempat yang sangat ekstrem :

Ra Pauletta - Seniman Meksiko yang gali gua dan tinggal selama 25 tahun di dalamnya

Kisah Orang-Orang Yang Hidup Sebatang Kara di Tempat Ekstrem

Di gurun di sebelah utara New Mexico Ra Pauletta menghabiskan 25 tahun dari hidupnya tinggal di dalam sebuah gua yang dibuatnya sendiri. Satu-satunya teman dia adalah seekor anjing. Hebatnya gua hasil bikinan Pauletta itu seperti sebuah karya seni pahat yang indah, megah.

Ketika ditanya apakah dia terobsesi dengan pekerjaan menggali gua? 

Pauletta hanya menjawab,"Apakah anak-anak terobsesi dengan bermain?" Dengan kata lain, seorang Pauletta seolah ingin menyampaikan apa yang dilakukannya sudah menjadi semacam urat nadi atau deru napasnya sebagai seniman.

Tak hanya menggali gua dari bukit kapur, bagian dalam gua pun ia hiasi dengan ukiran dan pahatan cantik. Yang menjadikannya luar biasa adalah fakta bahwa Paulette membangun keseluruhan gua katedral tersebut seorang diri. Paulette hanya menggunakan alat-alat pertukangan biasa untuk membangun keseluruhan gua katedral itu. Paulette membutuhkan waktu 25 tahun untuk menyelesaikan proyek pembuatan gua katedral tersebut.

Yang menakjubkan dari semua itu adalah Ra Paulette merupakan seorang seniman otodidak. Ia tidak memiliki dasar ilmu arsitektur dan tidak pernah belajar memahat secara profesional. Paulette hanya berbekal hasrat dan semangatnya untuk membuat gua katedral tersebut. Sementara keterampilannya dalam membangun dan menciptakan ukiran diasah sembari mengerjakan proyek gua katedral.

Proyek pembuatan gua katedral ini dulunya tidak diketahui banyak orang. Penduduk di sekitar New Mexico sendiri tak banyak yang tahu. Baru ketika seorang sineas film mendengar tentang proyek Paulette dan mengabadikannya dalam sebuah film dokumenter berjudul Cavedigger, gua katedral itu langsung menarik perhatian dunia. Selain mengantar Paulette dan gua katedral buatannya menuju popularitas, sineas itu pun diganjar dengan nominasi Academy Award untuk kategori film dokumenter.

Masafumi Nagasaki - Kakek 76 tahun hidup sendiri di pulau selama 20 tahun

Kisah Orang-Orang Yang Hidup Sebatang Kara di Tempat Ekstrem

Masafumi Nagasaki, 76 tahun, tinggal di pulau terpencil Sotobanari selama 20 tahun. Selama di pulau itu dia sehari-hari tidak memakai baju sehelai pun alias telanjang bulat. Di pulau terpencil itu tidak ada air mineral dan banyak hewan serangga serta rawan diterjang badai dahysat.

Tingginya ombak di sekitar pulau itu juga membuat ikan hampir tidak mungkin dipancing.

"Sebelumnya saya tidak menganggap penting mau mati di mana. Tapi di sini, dikelilingi oleh alam, tak ada tempat lain yang seperti ini kan?" kata dia ketika diwawancara kantor berita Reuters dan dilansir situs Huffington Post, April 2012 silam.

Yu Fazhong - Pria China bertahan tinggal di Desa Kutub

Kisah Orang-Orang Yang Hidup Sebatang Kara di Tempat Ekstrem

Yu Fazhong tinggal di tempat terdingin di China. Hidup sebatang kara, Yu setiap hari menenggak alkohol untuk terus menghangatkan dirinya. Pria ini tinggal di sebelah utara Provinsi Heilongjiang selama sekitar 10 tahun terakhir. Tempat tinggal Yu disebut dengan "Desa Kutub".

Dilansir dari Shanghaiist, tempat tinggal pria ini diketahui sejak seorang pengunjung mengabadikan rumahnya dan mengunggah ke jejaring sosial Weibo. Dalam unggahan tersebut, banyak netizen yang berkomentar. Mereka membayangkan bagaimana harus tinggal di tempat Yu yang sepi, kurangnya ruang penghangat, dan suhunya sangat rendah.

"Aku terus tinggal di sini dengan kondisi seadanya selama hampir 10 tahun," ujar Yu.

Dia mengatakan, jika terlalu dingin, dia menyalakan api untuk menghangatkan dirinya.

"Setiap hari saya terus meminum alkohol, bukan untuk mabuk, namun untuk menjaga suhu tubuh saya tetap hangat," lanjut Yu.

Yu juga mengatakan, setiap hari dia memancing ikan untuk dimakan. Tempat tinggal Yu berada tiga kilometer jauhnya dari desa terakhir di daerah Heilongjiang. Di desa itu, sekitar 243 rumah permanen didirikan untuk melindungi 1.000 penduduknya.

Michael Peter Fomenko - Lelaki Australia 60 tahun tinggal di hutan rimba

Kisah Orang-Orang Yang Hidup Sebatang Kara di Tempat Ekstrem

Michael Peter Fomenko, 84 tahun, hidup di hutan liar di sebelah utara Queensland, Australia, selama 60 tahun. Dia selama ini bertahan hidup di hutan dengan makan buaya dan babi hutan. Dia menangkap dan membunuh hewan liar itu dengan tangan kosong.

Koran the Daily Mail melaporkan, Fomenko diyakini adalah putra dari Putri Rusia Elizabeth Machabelli.  Dia terbang ke Sydney pada usia 24 tahun dan mengucilkan diri dari kehidupan dunia luar di dalam hutan di antara Cape York dan Ingham. Dia menjalani hidup semacam itu karena terinspirasi karya sastrawan Yunani Homer, The Odyssey.

Pada 1959, Fomenko dilaporkan diselamatkan oleh suku pedalaman dari kondisi kelaparan di dalam hutan. Menurut koran the Sydney Morning Herald, pada 1964 polisi sempat menahannya karena tingkahnya membahayakan. Dia kemudian dianggap gila.

Dia kemudian pernah beberapa kali dikarantina dan diberi terapi kejutan listrik. Tapi kemudian dia dilepaskan dan kembali ke hutan.  Fomenko hidup dengan suku asli Aborigin hingga 2012 lalu dirawat oleh lembaga jompo. 

Ayahnya adalah Daniel Fomenko asal Georgia yang dulunya bagian dari Uni Sovyet. Keluarga Fomenko kabur ke Jepang pada 1930-an. Tapi ketika Jepang menjajah China hingga memicu Perang Pasifik pada 1937, keluarga Fomenko kembali kabur ke Sydney.

Merasa terasing dengan bahasa dan statusnya sebagai pengungsi, Fomenko perlahan mengucilkan diri ke hutan, menjauhi dunia modern. Pada akhir 2012 dia kembali menjadi sorotan setelah warga sekitar melaporkan dia hilang.

Pekan lalu dia akhirnya ditemukan dalam kondisi sehat di sebuah rumah jompo. Dia rupanya sudah tinggal di sana sejak 2012.

"Dia cukup senang berada di sini," kata seorang perawat di rumah jompo kepada the Courier Mail.

"Dia tidak mau berbicara dengan siapa pun. Dia penyendiri. Tapi dia bahagia dan nyaman di sini."

Xu Wenyi - Lelaki ini gali gunung dan tinggal di gua lebih dari 10 tahun

Kisah Orang-Orang Yang Hidup Sebatang Kara di Tempat Ekstrem

Manusia bisa mendaki gunung tertinggi atau menyeberangi lautan yang ganas untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Sama seperti kisah Xu Wenyi, seorang petani asal China, yang nekat menggali gunung untuk tempat tinggal setelah bercerai dengan istrinya.

Setelah bercerai, Xu Wenyi mencari tempat yang bisa digunakannya untuk menyendiri. Jadilah, selama enam tahun pria ini menggali sebuah lubang untuk dijadikan gua tempat tinggalnya pada sebuah gunung di wilayahnya. Ini tentunya merupakan kerja keras, namun Xu Wenyi terbukti bisa melakukannya hingga rumah guanya siap dan bisa ditinggali.

Xu yang saat ini sudah berusia 57 tahun, saat ini telah tinggal dalam gua itu selama lebih dari 10 tahun. Gua tersebut terletak di gunung pada Xiangtan County, Provinsi Hunan. Dengan kedalaman sekitar 30 meter dan lebar tiga meter, gua tempat tinggalnya sebenarnya cukup luas untuk ditinggali.

Bahkan gua tempat tinggalnya itu terlihat lebih mirip apartemen yang lengkap dengan dinding beton dan pintu depan. Interior di dalamnya juga cukup rapi. Gua tersebut memiliki ruang tamu seluas 25 meter persegi dan dapur tungku. Tak hanya itu di dalam guanya juga terdapat kandang ayam dan sebuah taman pinus di depan guanya.

Xu mengakui bahwa rumah guanya itu merupakan tempat paling nyaman untuk menyendiri. Rumah guanya memberikan kedamaian yang diperlukannya serta udara segar yang tak dimilikinya ketika tinggal di rumah yang lama, seperti dilansir oleh Odditycentral. Dari foto-fotonya, tampaknya Xu memang terlihat bahagia tinggal di apartemen dalam guanya.

Nah, itulah sekiranya lima kisah hebat mereka yang bisa bertahan hidup sendiri di tempat yang sangat jauh dan terpencil dengan segala keterbatasan dan tidak ada bantuan sama sekali mereka bisa bertahan hidup selama puluhan tahun lamanya.

t;/noscript>

loading...

Perhatian :
Buat kawan-kawan semua jika suka dan ingin mengcopy paste artikel dari anakregular.com Ada kiranya, kawan-kawan yang baik hati untuk mencantumkan link sumber yang aktif dari blog anakregular.com. Karena satu link yang Anda ambil dan ditaruh di blog atau media sosial lainnya sangatlah penting bagi kami. Terima Kasih.