Empat Kasus Santet Paling Menggemparkan di Indonesia

Sebagai negara yang penuh dengan keanekaragaman budaya, suku dan bangsa Indonesia memang punya segalanya, mulai dari bahasa, agama hingga kepercayaan lain yang sering dikaitkan oleh banyak warga Indonesia. Salah satunya adalah santet. Dalam prakteknya santet merupakan salah satu senjata alternatif yang sering digunakan orang zaman dahulu untk mencelakai seseorang dari jarak jauh.

Adapun orang yang selalu melakukan pekerjaan santet ini biasa disebut dukun atau paranormal. Karenanya banyak orang yang takut akan kelakuan dukun yang suka menyantet orang tersebut. Hingga saat ini isu santet pun masih sangat kental di masyarakat. Walau teknologi medis sudah sangat canggih namun sebuah kematian yang tak diketahui penyebabkan seringkali dikaitkan dengan guna-guna atau disantet oleh orang yang membencinya.

Karena itu warga yang gelap mata akan langsung menghabisi nyawa seseorang yang dianggap sebagai dukun santet. Kemarahan warga memuncak karena dukun-dukun itu dianggap membawa penyakit bahkan tumbal sehingga meresahkan warga. Selain itu, ternyata masih banyak peristiwa serupa terjadi di sejumlah daerah. Tanpa mengetahui kebenarannya, warga biasanya mudah terpancing isu santet.

Baca juga : Tradisi Ingin Cepat Hamil Paling Unik di Dunia

Empat Kasus Santet Paling Menggemparkan di Indonesia



Dituduh dukun santet, rumah kakek di Blitar dibakar warga

Rumah Kakek Satir (80) yang berlokasi di Desa Ngadipuro, Kecamatan Wonotirto, Blitar, Jawa Timur dibakar warga sebab dituduh berprofesi sebagai dukun santet. Kejadian pembakaran rumah itu pada Senin (12/5), sekitar pukul 22.15 WIB malam. Kejadian pembakaran itu berawal dari warga yang berobat padanya karena sakit yang dideritanya. Satir dinilai bisa mengobati luka warga, namun akhirnya pasien itu malah tidak sembuh-sembuh. Sehingga warga geram dan membakar rumah Satir.

Kepolisian Resor Blitar, Jawa Timur, langsung mengusut kasus pembakaran rumah yang diisukan sebagai rumah seorang dukun di Kecamatan Wonotirto, Kabupaten setempat. "Pemilik rumah (Satir) sudah diamankan di Polsek (Kepolisian Sektor Wonitorto).Dia diamankan dari amukan massa yang merasa geram," kata Kepala Sub-Bagian Humas Polres Blitar AKP Wisnu Wardhana.

Warga tewas dengan perut membuncit, 1 desa gelar sumpah dukun santet

Ada cara unik yang selalu diterapkan warga di Dusun Pangkung Slepe, Desa Medewi, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana, Bali. Setiap ada warganya yang terkena penyakit yang dianggap aneh, desa adat langsung menggelar prosesi upacara sumpah dukun santet. Upacara yang digelar pada Kamis (19/2) disebut sebagai upacara 'Balik sumpah' atau 'Mening-ning'. Upacara ini ditujukan kepada warganya yang memiliki ilmu hitam.
"Kalau tidak ada warga kami yang terkena penyakit aneh, kami tidak menggelar upacara balik sumpah," kata salah seorang warga setempat.
Bahkan saat upacara ini digelar, satu desa mengosongkan rumahnya dan wajib untuk melakukan persembahyangan bersama di Pura Dalem (dekat kuburan). Karenanya hingga melibatkan aparat kepolisian untuk menjaga desa. Mereka melakukan sumpah bersama, semacam 'sumpah pocong' meyakinkan bahwa tidak menjalankan ilmu hitam. Ritual itu dilakukan sebab ada dua warga desa setempat mengalami penyakit perut buncit atau membesar akibat di santet oleh salah satu warga yang mempelajari ilmu santet.

Selain itu, upacara sumpah tersebut dilaksanakan terkait adanya kematian warga Dusun Pangkung Slepo yang dianggap tidak wajar.
"Warga yang meninggal juga perutnya besar. Bahkan ada yang meninggal di usia muda. Karena ini warga saling curiga, makanya digelar acara ini," ungkap warga setempat.
Bendesa Adat (Tetua adat) Pakraman Medewi Gusti Wenia, memfasilitasi kegiatan upacara sumpah tersebut. "Ini bukan keinginan saya semata, ini keinginan warga dan sudah sejak lama upacara ini dilangsungkan. Tujuannya agar desa kami selalu melangkah ke ajaran yang positif," tukasnya.

Nenek diduga dukun santet dimutilasi warga Desa Buya

Warga Desa Buya, Kecamatan Mangoli Selatan, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara, memutilasi seorang nenek, Nuryan Umanahu (70), yang dituduh sebagai dukun santet. Dia diduga menyantet seorang warga bernama Suhaida Soamole. Kejadian itu bermula saat Suhaida berhari-hari sakit dan sudah berobat ke mana-mana. Namun tak kunjung sembuh.

Masyarakat setempat menuding bahwa Suhaida disantet oleh nenek Nuryan. Oleh karena itu mereka menghakimi nenek Nuryan dengan membabi buta hingga tewas. Kapolda Maluku Utara, Brigjen Pol Zulkarnain memaparkan, peristiwa itu terjadi ketika Suhaida tiba-tiba kerasukan berteriak takut sama nenek. Melihat Suhaida kerasukan, sang suami Sukri Sapsuha terkejut dan panik. Sukri kemudian membawa Suhaida ke rumah kakaknya bernama Hamjad Sapsuha meminta pertolongan untuk menyadarkan istrinya.
"Hamjad Sapsuha memercikkan air ke wajah Suhaida, lalu saat itu pula keadaan Suhaida dalam kondisi mulut menjadi bengkok dan mata kiri tertutup," kata Zulkarnain, Kemarin.
Keluarga makin cemas lantaran Suhaida tak kunjung sadar. Dan yang membuat keluarga curiga Suhaida disantet ketika dia berjalan menuju rumah nenek Nuryan. Suami beserta warga membuntuti Suhaida karena ingin mengetahui apa yang dilakukannya.
"Sesampainya di depan rumah korban, Suhaida langsung pingsan," kata Zulkarnain.
Kecurigaan warga makin kuat saat melihat Suhaida pingsan, mereka kemudian mencari korban. Namun, kala itu nenek Nuryan tak berhasil ditemukan. Tak puas, warga kembali mendatangi kediaman korban Minggu (20/3). Ternyata korban berada di rumah menantunya.
"Hamjad mendorong pintu kamar korban dan langsung memotong korban, dengan cara mengayunkan sebilah parang dan mengenai punggung belakang korban," beber Zulkarnain.
Tak hanya itu, suami Suhaida dan juga warga membabi buta memutilasi korban dengan sadis. "Sukri juga memotong korban dengan sebilah parang dan disusul dengan para tersangka lainnya yang masuk dan memukuli korban hingga korban meninggal dunia," sambung Zulkarnain.

Isu dukun santet minta tumbal 41 nyawa, warga Berau takut keluar rumah

Warga Kampung Merancang Ulu, Kecamatan Gunung Tabur, Berau, Kalimantan Timur, dibuat resah dengan merebaknya isu ilmu hitam meminta tumbal nyawa 41 warga. Hampir setiap malam, warga memilih tidak keluar rumah. Belum diketahui jelas asal mula merebaknya isu itu. Namun disinyalir, itu dikaitkan dengan meninggalnya sepuluh warga kampung dalam kurun waktu 1,5 bulan terakhir. Dua di antaranya meninggal usai kesurupan, setelah sebelumnya tidak bisa siuman.
"Gara-gara isu ini, kampung jadi sepi kalau malam. Biasanya ramai setiap malam," ujar Kepala Kampung Merancang Ulu, Andi Marpai, Kemarin.
Andi menuturkan, pola kehidupan di tengah masyarakat setempat berjalan seperti biasa. Nyaris tidak pernah terdengar adanya perselisihan antarwarga berpotensi menjadi pemicu konflik antarwarga, hingga menggunakan ilmu hitam sebagai sarana balas dendam.
"Itu di luar kemampuan kami ya. Tapi sejauh ini dari pengamatan kami, tidak ada (perselisihan antarwarga). Semua berjalan biasa-biasa saja. Tapi memang, kampung kami terkena musibah seperti ini, banyak yang bertanya-tanya. Ya, dengan adanya isu-isu tumbal itu, kami ketakutan. Jujur saja, Pak," ucap Andi.
Meredam kekhawatiran warga, tidak kurang 80 warga Merancang Ulu, Senin (21/3) siang mengikuti proses rukyah, yang dihadiri Wakil Bupati Berau, Agus Tantomo. Rukyah dilakukan masih berkaitan dengan isu tumbal beredar di tengah masyarakat.
"Iya Pak, terkait yang ramai di sini. Rukyah supaya untuk meredam ketakutan warga kampung," beber Andi.
Sebelumnya, beredar kabar di tengah masyarakat setempat, 10 warga yang meninggal disebabkan pengaruh santet, meski masih memerlukan pembuktian mendalam. Bahkan, merebak kabar, pengaruh santet meminta tumbal 41 orang warga kampung. Tentu saja, kabar itu buat resah warga setempat.

Kepolisian pun turun tangan sejak Minggu (20/3). Kepolisian bersikap hati-hati, belum banyak keterangan bisa mereka dapatkan. Bahkan isu adanya pengaruh ilmu hitam itu pun ditepis aparat kepolisian.

Kapolres Berau AKBP Anggie Yulianto Putro mengatakan, pemda Berau bersama dengan kepolisian, masih harus melakukan penelusuran lebih lanjut untuk terus mengumpulkan keterangan dari warga kampung Merancang Ulu.
"Dari Pemda dan Polri, masih menunggu hasil laporan, terkait apa dan bagaimana sebabnya (meninggalnya warga itu)," kata Anggie.
Anggie juga menepis, personel yang dia terjunkan malam ini untuk berjaga di kampung Merancang Ulu, terkait isu yang beredar di tengah masyarakat itu. Menurut dia, kegiatan patroli, merupakan kegiatan rutin.
"Seperti biasa ada Babinkamtibmas. Kebetulan malam ini, giliran patroli ke sana (kampung Merancang Ulu)," ungkapnya.
Namun demikian, Anggie meminta semua pihak tanpa terkecuali, menyikapi persoalan disertai ragam isu yang berkembang, dengan arif dan bijaksana.
"Ya (isu yang berkembang buat resah). Harus dewasa menyikapi. Besok, Pemda dan Polri, mendalaminya," pungkas Anggie.
Baca juga : Lima festival paling kontroversial di Dunia
loading...

Perhatian :
Buat kawan-kawan semua jika suka dan ingin mengcopy paste artikel dari anakregular.com Ada kiranya, kawan-kawan yang baik hati untuk mencantumkan link sumber yang aktif dari blog anakregular.com. Karena satu link yang Anda ambil dan ditaruh di blog atau media sosial lainnya sangatlah penting bagi kami. Terima Kasih.