Empat Orang Ini Selamat Berkali-Kali dari Serangan Teror

Kata orang perkara nasib hanya Tuhan yang tahu. Manusia boleh berusaha tapi Tuhan yang menentukan. Tidak ada yang tahu akan takdir dan apa yang akan terjadi dimasa depan. Namun kita sebagai manusia hanya bisa berencana dan melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan kita. Bahkan dalam hal keselamatan pun kita tidak akan pernah tahu, seperti yang dialami oleh orang-orang berikut ini.

Entah namanya keberuntungan yang membuat banyak orang iri atau memang sudah takdir Tuhan yang digariskan kepada mereka. Orang-orang ini bisa selamat dari kasus teror bom yang membuat takut banyak orang, hebatnya lagi bukan sekali selamat namun sampai dua kali bahkan ada yang lebih bisa selamat hidup walau kematian sudah di depan mata.

Mason Wells

Empat Orang Ini Selamat Berkali-Kali dari Serangan Teror

Dewi keberuntungan nampaknya berpihak pada pemuda bernama Mason Wells. Pemuda 19 tahun asal Amerika Serikat ini tiga kali selamat dari serangan teror di tiga negara berbeda. Dia selamat saat berada di lokasi dekat bom maraton Boston pada 2013, sedang di Paris ketika terjadi serangan teror November tahun lalu, serta berada di Brussels kemarin, ketika bom bunuh diri meledak.

Bersama seorang temannya, Mason sedang berada di stasiun kereta Maalbeek beberapa saat sebelum bom meledak. Kepada Metro, Rabu (23/3), pemuda ini mengatakan dirinya hanya terkena pecahan peluru dan menderita luka bakar ringan di tangannya akibat ledakan bom tersebut.

Mason merupakan seorang misionaris ajaran Kristen Mormon, sehingga berkeliling Eropa menyebarkan ajarannya. Dia meyakini dirinya selalu selamat dari serangan teror karena dilindungi Tuhan.Pada saat bom Boston Marathon, Mason mengatakan dirinya seakan dihalangi untuk berada dekat dengan garis akhir, di mana bom meledak. Sementara itu, saat serangkaian serangan terjadi di titik-titik Kota Paris, Mason di dalam stadion dan mendengar ledakan.

Saat ini, Mason memang berada di rumah sakit, namun kondisinya berangsur pulih dan luka bakarnya membaik dengan cepat.Bom beruntun yang terjadi di Ibu Kota Brussels, Belgia, menewaskan sedikitnya 34 orang serta melukai 130 lainnya. Korban tewas paling banyak berada di stasiun kereta Maalbeek. Polisi sudah menemukan dua pelaku bom bunuh diri yang berada di Bandara Zaventem, yaitu kakak beradik Khalid dan Brahim el-Bakraoui. Namun pelaku yang meledakkan diri di gerbong kereta bawah tanah belum diketahui.

Massimiliano Natalucci

Empat Orang Ini Selamat Berkali-Kali dari Serangan Teror

Turis Italia bernama Massimiliano Natalucci beruntung untuk kedua kali dalam hidupnya ketika dia selamat dari serangan di Paris Jumat malam lalu. Sebelumnya 30 tahun lalu dia juga selamat dari tragedi ambruknya dinding stadion sepak bola Heysel di Brussels.

Pria 45 tahun itu mengatakan kepada koran Corriere Adriatico, dia berhasil selamat dari berondongan peluru di Gedung Bataclan. Natalucci hanya menderita luka kecil di salah satu kakinya. Seorang temannya yang ikut menyaksikan konser musik itu tidak seberuntung Natalucci. Dia harus dioperasi karena luka di bahunya serius.

Hampir 30 tahun lalu, saat dia masih berusia 15 tahun, Natalucci dan ayahnya, serta pamannya selamat ketika dinding stadion Heysel roboh pada pertandingan Final Piala Eropa yang menewaskan 39 orang. Kakak perempuan Natalucci, Federica punya teori soal keberuntungan dua kali itu: sebuah ciuman dari Paus Paulus II di Roma saat Natalucci berusia depalan tahun telah melindunginya dari musibah mematikan.

Tsutomu Yamaguci 

Empat Orang Ini Selamat Berkali-Kali dari Serangan Teror

Tsutomu Yamaguci tidak pernah mengira dia bakal kena bom atom dua kali di Hiroshima dan Nagasaki pada Perang Dunia Kedua. Warga Jepang yang tinggal di Nagasaki itu sedang berada di Hiroshima pada 6 Agustus 1945, hari ketika Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di kota itu. Waktu itu dia sedang dalam urusan bisnis di pabrik Mitsubishi.

Yamaguci sebenarnya akan meninggalkan kota itu pada hari itu. Saat sudah berada di stasiun dia baru sadar "hanko"--cap untuk bepergian--miliknya ketinggalan di kantor. Dia pun harus kembali ke kantornya. Pada pukul 8.15 pagi saat dia sedang berjalan kota Hiroshima bergetar karena bom atom dijatuhkan. Dia hanya berjarak tiga kilometer dari tempat jatuhnya bom itu. 

Akibatnya dia mengalami kebutaan sesaat dan gendang telinganya rusak. Sebagian tubuhnya juga kena luka bakar serius. Setelah dirawat semalam di penampungan dia kembali ke Nagasaki keesokan harinya.

Di Nagasaki dia dirawat dan kemudian mulai kembali bekerja pada 9 Agustus, hari ketika Amerika menjatuhkan bom atom kedua di kota itu. Saat bom dijatuhkan dia kembali hanya berjarak tiga kilometer dari tempat jatuh bom. Untungnya dia kali ini selamat. Pada 2009 pemerintah Jepang mencatat namanya sebagai satu-satunya orang Jepang yang selamat dihantam dua bom atom. Dia meninggal pada 2010 akibat kanker perut.

Matthew 

Empat Orang Ini Selamat Berkali-Kali dari Serangan Teror

Sosok pria bernama Matthew ini termasuk manusia beruntung di dunia ini. Dia selamat dari dua kali serangan teroris terburuk. Pria tak disebut nama keluarganya atas alasan pribadi ini selamat dari serangan 11 September serta serbuan ISIS di Gedung Konser Bataclan, Paris, November lalu.

Surat kabar the Telegraph melaporkan, Minggu (22/11/2015), pada 2001, Matthew yang saat itu memulai karir sebagai karyawan beruntung terlambat datang rapat di kawasan World Trace Center, New York. Belum sampai masuk gedung, dia melihat pesawat menghantam bangunan tertinggi di AS itu. Ketika gedung mulai rubuh, dia berlari sepanjang Distrik Manhattan untuk melarikan diri.

Trauma atas serangan teroris di New York, Matthew lima tahun lalu memilih hijrah ke Paris. Warga Negara AS ini tinggal di Negeri Anggur bersama istrinya. Nahas, lelaki 36 tahun ini tak menduga keputusannya nonton konser di Bataclan berujung tragis. Dia termasuk dari 80 penonton terluka yang diberondong peluru AK-47 oleh tiga pelaku teror Paris. Dalam insiden penembakan khusus di gedung itu saja, nyaris 100 orang tewas.

Matthew tertembak di bagian kaki. Di tengah-tengah tumpukan mayat, dia berusaha pura-pura mati. Istrinya tidak ikut nonton konser karena menjaga anak mereka yang masih balita. Di tengah keputusasaan, Matthew merangkak saban para pelaku harus mengisi ulang amunisi. Di depan matanya, lebih dari tiga orang meregang nyawa karena ditembak mati teroris.

Sosok yang menolongnya adalah wartawan Le Monde, Daniel Psenny. Matthew, bersama seorang perempuan hamil yang bergelantungan di jendela gedung, berhasil selamat dibawa ke apartemen milik Psenny. Sang wartawan tertembak teroris saat menolong beberapa penonton konser, tapi hanya menderita cedera ringan.

Baca juga  : Empat kasus santet paling menggemparkan di Indonesia
loading...

Perhatian :
Buat kawan-kawan semua jika suka dan ingin mengcopy paste artikel dari anakregular.com Ada kiranya, kawan-kawan yang baik hati untuk mencantumkan link sumber yang aktif dari blog anakregular.com. Karena satu link yang Anda ambil dan ditaruh di blog atau media sosial lainnya sangatlah penting bagi kami. Terima Kasih.