Kisah Haru Pengorbanan Anak Demi Ayahnya

Mempunyai anak yang pintar, baik, dan bisa berbakti kepada orang tua adalah harapan semua orang. Setiap orang tua pasti akan bangga bila melihat anaknya sukses dan juga bisa berguna bagi orang lain. Dengan segala cara orang tua akan melakukan apa saja agar anaknya bisa menjadi orang yang diharapkan. Entah itu pendidikan yang layak atau masa kecil yang indah yang akan memberikan pengalaman hidup yang membahagiakan bagi sang buah hati.

Namun terkadang perjalanan hidup tak semudah yang dibayangkan. Apa yang selama ini ingin diberikan orang tua kepada anaknya tak kunjung terkabul. Bukannya memberi masa kecil dengan kebahagiaan malam memberikan suatu beban yang sangat besar kepada anaknya. Seperti yang dialami oleh para bocah malang berikut ini, di kala teman sebayanya tersenyum tertawa bahagia dengan mainan yang diberikan orang tuanya. Mereka harus menanggung beban keluarga di pundaknya.

Di usia yang masih belia mereka harus menjadi tulang punggung keluarga, menjadi pengasuh bagi orang tuanya menjadi seorang pelajar dimasa sibuknya. Tidak ada rasa keluh cape atau pun berontak. Beranjak dari hati, mereka lakukan demi orang tuanya yang lusuh dan tak bisa berdiri. Mereka menjadi cerminan sebagai anak yang diharapkan oleh setiap orang, walau masih belum waktunya mereka untuk berbakti.

Berikut ini anakregular sajikan informasi tentang mereka (anak berbakti) yang rela merawat dan menjadi tulang punggung keluarga di kala orang tuanya sakit tak berdaya. Empat kisah haru para bocah merawat ayahnya yang sakit akan menjadi kajian kita kali ini. Silahkan disimak dan jangan lupa untuk di bagikan :

Zhao Delong

Kisah Haru Pengorbanan Anak Demi Ayahnya

Seorang mahasiswa di China bernama Zhao Delong tidak seperti kebanyakan teman-temannya yang menyambut masa kuliah dengan penuh suka cita. Zhao pindah ke asrama kampus untuk menjalani aktivitas kuliah dengan membawa ayahnya yang lumpuh. Maksudnya supaya dia bisa merawat sang ayah sepanjang waktu ketika dia sedang kuliah.

Menurut laporan People's Daily Online yang dilansir koran the Daily Mail, Jumat (4/2), sebelum Zhao masuk kuliah dia sempat sakit dan ayahnya membawanya ke dokter. Kini giliran ayahnya yang sakit dan Zhao tidak ingin meninggalkan ayahnya sendirian.

Sewaktu kecil Zhao pernah mengalami polio. Dia tidak berdaya dan ayahnya membawa dia ke dokter dengan sepeda. Ibu Zhao entah di mana. Ketika Zhao harus menjalani operasi karena tidak bisa berjalan, ayahnyalah yang merawat Zhao hingga akhirnya dia sembuh dan bisa berjalan lagi dan mendaftar kuliah.

Ketika Zhao sudah pulih ayahnya jatuh sakit hingga lumpuh akibat suatu penyakit yang belum diketahui. Maka ketika dia masuk kuliah Zhao memutuskan membawa ayahnya tinggal bersama di kampus.

Zhao mengatakan dia tidak bisa meninggalkan ayahnya sendirian.
"Waktu dulu ayah membawa saya ke dokter, sekarang ayah saya sakit, saya tak bisa meninggalkannya," ujar Zhao kepada People's Daily Online.
Untuk menghidupi ayahnya, Zhao juga bekerja paruh waktu.

Ou Yangling

Kisah Haru Pengorbanan Anak Demi Ayahnya

Ou Tongming, lelaki 37 tahun asal China, lumpuh setelah dia jatuh dari sebuah gedung pada 2013 ketika bekerja sebagai kuli bangunan. 

Kejadian itu sungguh memukul keluarga miskin Tongming yang tinggal di Desa Wangpu, Provinsi Guizhou. Setelah menghabiskan banyak biaya untuk pengobatan, istri Tongming meninggalkan dia sambil membawa putri mereka berusia tiga tahun dan hanya meninggalkan putra mereka, Ou Yangling, tujuh tahun, buat merawat sang ayah.

Kini sudah lebih dari setahun Yanglin harus bangun jam 6.00 pagi untuk menyuapi makan ayahnya sebelum berangkat ke sekolah. Dia juga belajar memasak nasi sendiri dan belanja sayuran di pasar untuk dimasak. Saat istirahat siang di sekolah dia bergegas pulang untuk memberi makan siang buat ayahnya, seperti dilansir koran the Daily Mail, Selasa (3/11).

Tongming mengatakan dia hampir saja putus asa dan ingin bunuh diri melihat betapa dia menjadi beban bagi putranya yang masih berusia tujuh tahun.
"Saya tidak tega meninggalkan dia menjadi yatim," kata Tongming kepada media lokal, seperti dikutip Shanghaiist.
Yanglin yang baru saja duduk di bangku kelas 1 SD harus berjuang mengumpulkan sampah di jalanan untuk dijual kembali. Sebagai pemulung cilik dia bisa mendapat Rp 42 ribu dalam sehari. Di samping itu ada uang santunan sebesar Rp 640 ribu bagi para penderita difabel seperti Tongming. Di samping belajar, dia juga tetap harus merawat ayahnya setiap hari. 
"Ayah saya butuh obat, tapi saya tak punya uang," ujar Yanglin kepada media lokal.
Dia mengatakan ingin cepat besar supaya bisa mencari uang buat menyembuhkan sakit ayahnya.
"Saya tak bisa hidup tanpa ayah," kata dia.
Kisah Yanglin ini beredar di media sosial China dan mengundang banyak seruan penggalangan dana buat membantu hidupnya dan sang ayah.

Song Biyang

Kisah Haru Pengorbanan Anak Demi Ayahnya

Selama hampir lima bulan, seorang bocah delapan tahun di Provinsi Hubei, China, rela tak sarapan dan menggunakan uang sakunya untuk membeli tiket lotre. Dia melakukan itu untuk ayahnya. 

Song Biyang berharap bahwa dia mungkin bisa menang lotre dan memberikan uang itu kepada ayahnya. Menurut laporan Xinhua, ayah Song kini sedang sakit dan membutuhkan transplantasi ginjal. 

Nenek Song biasanya memberikan bocah itu dua yuan (sekitar Rp 4.002) setiap hari untuk sarapan, tetapi bukannya dibelikan makanan, dia malah membelikannya tiket lotere di sebuah outlet di dekat rumahnya di Jianli.

Ayah Song diketahui telah berhenti bekerja karena kondisinya yang memburuk. Sayangnya, untuk bisa melakukan operasi transplantasi, ayahnya membutuhkan biaya sekitar 300.000 yuan (sekitar Rp 600 juta). Ayah Song juga diketahui telah bercerai dari ibunya dan memiliki banyak utang.

Song mengatakan bahwa dia hanya minum air untuk membuat dirinya merasa kenyang saat dia berada di sekolah setiap hari. Sejauh ini, dia telah berhasil memenangkan lotre 10 yuan (Rp 20.010).

Ketika ayah Song mengetahui bahwa anaknya pergi ke sekolah dengan perut kosong agar Song bisa bermain lotre, dia sangat terkejut. Dia mencoba membujuk Song untuk berhenti, tetapi tidak berhasil. Sekarang, neneknya memberi Song tiga yuan (Rp 6.000) setiap pagi sehingga dia bisa membeli tiket lotre dan juga membeli sesuatu untuk dimakan.

Mo Suangyi

Kisah Haru Pengorbanan Anak Demi Ayahnya

Demi menyembuhkan penyakit ayahnya, bocah 10 tahun ini rela turun ke jalan untuk mengumpulkan kertas dan kardus bekas. Mo Suangyi sekarang masih duduk di bangku kelas lima sekolah dasar.

Bocah asal Jiangxi, China, itu bertekad untuk membayar biaya pengobatan ayahnya yang didiagnosis menderita kanker darah. Dokter mengatakan bahwa biaya pengobatan ayah Mo mungkin akan mencapai lebih dari 600.000 Yuan (atau sekitar Rp 1,2 miliar). Di tengah belitan kemiskinan yang terasa mencekik, keluarga Mo pun dilanda keputusasaan.

Namun karena Mo sangat menyayangi ayahnya, dia tidak mau menyerah pada keadaan. Dia memutuskan untuk turun ke jalan dan mengumpulkan kertas/kardus bekas yang ditemukannya di tempat sampah, dan kemudian menjualnya ke pengepul barang bekas. Menurut laporan Tencent News, dalam dua bulan terakhir, dia telah menjual sekitar 317,5 kg kertas/kardus bekas.

Selain mengais sisa potongan kertas/kardus bekas di jalan, Mo juga harus mengurus semua pekerjaan rumah tangga, termasuk memasak, mengepel lantai dan mencuci piring.
"Saya harus menjaga nenek dan adik saya, sehingga ayah tidak perlu khawatir tentang mereka", tulis Mo dalam buku hariannya.
Salah satu kalimat Mo yang paling menyentuh adalah, ketika dia menulis: "Saya tahu jarak antara 36,6 dan 600.000 itu seperti jarak Jiangxi sampai Beijing, tapi saya tidak mau menyerah. Jadi, tetaplah di sana ayah dan kau akan baik-baik saja."

Nah, itulah sekiranya empat kisah haru pengorbanan seorang anak menjaga dan mengobati ayahnya yang sakit dan tak bisa bekerja. Semoga bisa menjadi inspirasi menjadi motivasi dan menjadi pembelajaran bagi kita semua.
loading...

Perhatian :
Buat kawan-kawan semua jika suka dan ingin mengcopy paste artikel dari anakregular.com Ada kiranya, kawan-kawan yang baik hati untuk mencantumkan link sumber yang aktif dari blog anakregular.com. Karena satu link yang Anda ambil dan ditaruh di blog atau media sosial lainnya sangatlah penting bagi kami. Terima Kasih.