Lima Tradisi Mengasingkan Wanita Paling Mengerikan Masih Terjadi Sampai Saat Ini

AnakRegular - Inilah lima tradisi 'mengasingkan wanita' paling mengerikan di dunia, dan ironisnya masih dilakukan hingga sekarang, ngeri banget gan!!

Sebagai bangsa yang berbudi luhur pastinya menghormati tradisi dan budaya yang diwariskan leluhur dan nenek moyang harus tetap dilestarikan. Sebagai rasa cinta akan budaya dan tanah kelahiran beberapa tradisi dianggap sebagai kewajiban yang senantiasa selalu di lakukan. Baik tradisi keagamaan ataupun tradisi yang dianggap sangat menyeramkan sekaligus.

Seiring berjalannya waktu dan perkembangan ilmu pengetahuan yang cepat, beberapa informasi dan pertukaran budaya dengan mudah dilakukan. Namun seiring keterbukaan budaya tersebut, ternyata banyak respon yang tak sesuai harapan, walau dalam intinya sangat bagus karena melestarikan budaya, beberapa tradisi nyatanya dianggap sangat berbahaya oleh sebagian orang.

Ya, seperti beberapa tradisi berikut ini, banyak orang yang mengecam dan meminta tradisi-tradisi ini untuk segera di hapuskan. Tradisi seperti membuang dan mengasingkan wanita dianggap sangat melemahkan dan merendahkan kaum wanita. Meski begitu, mereka yang masih percaya tetap melakukannya, karena jika tidak mereka dianggap berkhianat kepada leluhurnya yang lebih dulu melakukan tradisi tersebut.

Lima Tradisi Mengasingkan Wanita Paling Mengerikan Masih Terjadi Sampai Saat Ini
Ilustrasi Pengasikan Wanita di Afrika
Berikut anakregular informasikan lima tradisi mengasingkan wanita paling mengerikan yang masih dilakukan hingga sekarang. Silahkan disimak kawan :

Tradisi Menarche 'Mengasingkan Wanita Saat Haid' di Suku Nootka

AnakRegular - Tradisi mengasingkan wanita paling miris pertama datang dari aturan dan tradisi suku pribumi Nootka yang mendiami wilayah di kepulauan Vancoucer. Dalam adat suku Nootka ada sebuah ritual kedewasaan yang harus selalu dilakukan oleh para gadisnya. Ya, tradisi bernama menarche mengharuskan gadis di suku Nootka yang pertama kali mendapatkan haid akan menjalani semacam ujian fisik untuk membuttikan ketahannya sebagai seorang wanita.

Gadis yang sedang haid tersebut akan dibawa oleh tetua suku ke laut dan kemudian meninggalkannya disana. Dalam kewajibannya gadis tersebut harus berendam di tengah air laut dalam keadaan telanjang selama beberapa hari sampai haidnya selesai. 

Begitu mengerikannya traidisi ini bisa dilihat ketika ritual dianggap selesai. Banyak sekali gadis muda yang tak kuat untuk berdia apalagi mengangkat dirinya sendiri keluar dari air. Namun setelah itu gadis tersebut akan mendapatkan sorakan atas apa yang sudah dilakukannya.

Tradisi Pengasingan 3 Bulan Bagi Wanita Dewasa di Suku Ngoni

AnakRegular - Hampir memiliki cerita yang sama dengan suku pertama, kasus kedua ini juga tak kalah mengerikan. Adalah sebuah tradisi yang masih dilakukan oleh suku Ngoni di pedalaman negara Malawi dimana akan selalu mengasingkan gadis muda yang hendak memasuki pase kedewasaan.

Bagi suku ngoni, pengasingan ini sangatlah penting, dan dianggap sebagai salah satu cara menilai jika gadis di suku Ngoni sudah bisa dikatakan dewasa atau tidak. Gadis yang akan diasingkan tersebut akan ditempatkan di sebuah area terpencil seorang diri selama tiga bulan penuh.

Selain itu, seluruh tubuh mulai wajah dan anggota tubuh lainnya akan di pulas dengan sejenis tepung putih yang menandakan pemisahan fisik dan rohani dari masyarakat dimana gadis itu tinggal. Sebagai ritual penentuan, si gadis diminta duduk telanjang di dalam air sungai atau danau selama beberapa waktu. Jika salah satu wanita yang dituakan di sukunya memperbolehkan dia keluar dari pengasingan, gadis muda tadi boleh memulai hidupnya sebagai wanita dewasa.

Tradisi Chaupadi 'Pingit Wanita Haid' Nepal

AnakRegular - Di daerah Simikot, Nepal ada sebuah tradisi yang sering dilakukan guna memingit wanita yang sedang haid selama 20 hari lamanya. Tradisi yang dikenal dengan nama chaupadi dilakukan pada wanita yang sudah mengalami haid atau baru melahirkan. Selama pemingitan gadis-gadis ini akan diasingkan entah itu sendiri atau bersama bayinya di sebuah pondok pengasingan selama 20 hari.

Gubuk pengasingan ini biasanya tak memiliki fasilitas yang layak, sehingga mereka harus menghabiskan belasan hari dalam udara dingin, makanan seadanya, dan bahaya serangan binatang buas yang mengancam. Tak jarang para wanita yang sedang diisolasi di salah satu gubuk menjadi korban pelecehan.

Tradisi Ashram 'Pengasingan Janda' di India

AnakRegular - Sebagai negara yang menjadi tempat lahirnya agama Hindu, India sampai saat ini masih sangat memegang teguh ajaran dan peninggalan leluhurnya. Sebagai warga yang beragama, masyarakat India harus selalu mengamalkan dan menjalankan semua ajaran agamanya termasuk menjalankan hal yang dianggap sangat mengerikan.

Ya, salah satunya adalah yang harus selalu di lakukan oleh kaum janda (single parent) dimana mereka akan dianggap beban oleh keluarganya sendiri setelah ditinggal mati suaminya. Karena menjadi beban, banyak para janda yang harus hidup sendiri dan kemudian ada yang menghabiskan sisa hidup menjadi gelandangan.

Dilansir BBC, para wanita ini biasanya tinggal bersama di komunitas spiritual yang disebut ashram. Salah satu contohnya adalah ashram-ashram yang berderet di kota kelahiran Krishna, Vrindavan. Kota tersebut merupakan rumah bagi sekitar 6.000 janda berusia senja yang hidup dengan menggantungkan belas kasihan dari warga setempat.

Tradisi 'Buang Wanita' dan 'Nikah Paksa' di Afrika

AnakRegular - Merujuk kepada hasil riset yang dilakukan oleh Human Right Watch yang menyatakan jika negara-negara di Afrika terumana di wilayah Sub-Sahara masih mempraktikkan penikahan mengerikan, yakni pernikahan paksa terhadap perempuan-perempuan yang masih dibawah umur.

Dari penelitiannya dikatakan sekitar 40% wanita afrika menikah dibawah usia 18 tahun, dimana di usia yang masih sangat bocah, tubuh, dan organ reproduksi mereka belum berkembang dengan sempurna. Hal ini berdampak pada kelahiran berisiko yang kerap berujung kematian.

Jika tidak meninggal saat melahirkan, tak jarang para pengantin anak-anak ini menderita penyakit atau tertular penyakit menular seksual dari suami mereka yang jauh lebih tua dan lebih berpengalaman dari segi seksual. Kalau sudah begini, para perempuan tersebut diasingkan oleh suami dan keluarga mereka. 

Mereka sudah dianggap tak layak kembali ke masyarakat dan diharapkan menjalani sisa hidup di barak-barak darurat bersama istri-istri lain yang juga dibuang. Buruknya kondisi tempat tinggal dan pemeliharaan kesehatan membuat para wanita ini meninggal di usia muda.


loading...

Perhatian :
Buat kawan-kawan semua jika suka dan ingin mengcopy paste artikel dari anakregular.com Ada kiranya, kawan-kawan yang baik hati untuk mencantumkan link sumber yang aktif dari blog anakregular.com. Karena satu link yang Anda ambil dan ditaruh di blog atau media sosial lainnya sangatlah penting bagi kami. Terima Kasih.